Direktur Utama Pupuk Indonesia Rahmad Pribadi menjawab pertanyaan awak media seusai rapat kerja dengan Komisi XI DPR RI di Jakarta, Kamis (2/4/2026). ANTARA/Harianto
Matamata.com - Direktur Utama PT Pupuk Indonesia (Persero), Rahmad Pribadi, menegaskan bahwa ekspor pupuk urea hanya akan dilakukan sepanjang kebutuhan domestik telah terpenuhi. Prioritas utama perusahaan saat ini adalah menjaga ketersediaan dan stabilitas pasokan bagi sektor pertanian nasional.
"Yang penting Indonesia aman dulu, baru ekspor," ujar Rahmad usai menghadiri rapat kerja dengan Komisi XI DPR RI di Jakarta, Kamis (2/4).
Rahmad menjelaskan, Indonesia saat ini masih memiliki kapasitas untuk mengekspor pupuk urea guna membantu pemenuhan kebutuhan negara-negara tetangga. Langkah ini menjadi krusial mengingat keterbatasan pasokan global akibat penutupan Selat Hormuz sebagai dampak gejolak di Timur Tengah.
Beberapa negara tujuan utama ekspor urea Indonesia meliputi Australia dan India. Meski demikian, Rahmad kembali menekankan bahwa kepentingan dalam negeri tetap menjadi landasan utama sebelum memutuskan pengiriman ke luar negeri.
Harga Saat ini, kapasitas produksi urea nasional mencapai 8,8 juta ton secara operasional, dari total kapasitas terpasang sebesar 9,4 juta ton.
Mengenai lonjakan harga, Rahmad menyebutkan harga urea global telah meningkat tajam dari kisaran 400 dolar AS per ton menjadi 800 dolar AS per ton. Namun, ia memastikan posisi Indonesia relatif aman karena sebagian besar kebutuhan pupuk dipenuhi secara mandiri melalui produksi dalam negeri.
"Terkait kuota ekspor, jumlahnya berkisar 1,5 juta ton. Namun, penyaluran ini tetap fleksibel dan mengikuti dinamika pasokan domestik," tambahnya.
Senada dengan hal tersebut, Wakil Menteri Pertanian (Wamentan) Sudaryono mengungkapkan bahwa sejumlah negara kini mulai mengincar pupuk dari Indonesia. Hal ini merupakan imbas krisis geopolitik di Timur Tengah yang mengganggu suplai urea dunia hingga 30 persen melalui Selat Hormuz.
"Mereka ingin mengimpor pupuk dari Indonesia, bahkan bersedia membayar berapa pun harganya," ungkap Sudaryono dalam pembukaan Konferensi Pupuk Asia 2026 di Nusa Dua, Bali, Rabu (1/4).
Sudaryono mencatat setidaknya ada enam negara yang berminat mengimpor pupuk dari Indonesia, di antaranya India, Brasil, Australia, dan Filipina.
Baca Juga: Indosiar Buka Audisi 'Band Academy', Siap Lahirkan Talenta Muda di Industri Musik
Berdasarkan data Trading Economics per 1 April 2026, harga urea dunia menyentuh angka 690 dolar AS per ton, melonjak signifikan dari posisi awal Januari 2026 yang masih berada di kisaran 350-380 dolar AS.
Dengan terpenuhinya kuota dalam negeri, Indonesia dinilai berpotensi besar menjadi stabilisator pasokan pupuk dunia di tengah ketidakpastian global tersebut. (Antara)