Survei Gallup: 57 Persen Warga Amerika Serikat Dukung Kemerdekaan Palestina

Survei terbaru Gallup mengungkap 57% warga AS dukung kemerdekaan Palestina. Simpati terhadap Israel di kalangan Republikan dan Independen merosot tajam.

Elara | MataMata.com
Sabtu, 28 Februari 2026 | 12:00 WIB
Jalur Gaza (ANTARA/Anadolu/py.)

Jalur Gaza (ANTARA/Anadolu/py.)

Matamata.com - Gelombang dukungan terhadap kemerdekaan Palestina terus menguat di Amerika Serikat. Hasil jajak pendapat terbaru yang dirilis Gallup menunjukkan bahwa 57 persen warga Negeri Paman Sam kini menyatakan dukungannya terhadap berdirinya negara Palestina yang berdaulat.

Angka ini menyamai rekor tertinggi yang pernah tercatat pada survei serupa tahun 2003. Berdasarkan panel penelitian berbasis probabilitas terbesar di AS tersebut, terjadi pergeseran sikap yang signifikan dalam peta simpati warga Amerika terhadap konflik Israel-Palestina.

Polarisasi Partai Politik Perbedaan pandangan terlihat kontras berdasarkan afiliasi politik. Di kubu Partai Demokrat, sebanyak 65 persen partisipan mengaku lebih bersimpati kepada Palestina. Angka ini berbanding terbalik dengan hanya 17 persen partisipan yang tetap condong kepada Israel.

Di sisi lain, Partai Republik secara tradisional masih menjadi basis pendukung utama Israel dengan angka simpati mencapai 70 persen. Namun, angka ini sebenarnya mencerminkan tren penurunan. Simpati kalangan Republikan terhadap Israel anjlok 10 poin sejak 2024, mencapai level terendah sejak dua dekade lalu (2004).

Pergeseran Pemilih Independen Perubahan paling mencolok terlihat pada kelompok pemilih independen. Untuk pertama kalinya, simpati kepada Palestina mengungguli Israel di kelompok ini.

Data Gallup mencatat 41 persen pemilih independen kini lebih mendukung Palestina, sementara yang bersimpati kepada Israel turun menjadi 30 persen. Sebagai perbandingan, pada tahun-tahun sebelumnya, dukungan terhadap Israel di kelompok ini masih mendominasi di angka 42 persen berbanding 34 persen untuk Palestina.

Pergeseran sentimen publik di jantung negara sekutu utama Israel ini dinilai bakal memberikan tekanan politik baru bagi arah kebijakan luar negeri Gedung Putih di masa depan. (Antara)

×
Zoomed
Berita Terkait TERKINI

Presiden AS Donald Trump optimistis perundingan dengan Iran berlanjut dalam dua hari. Meski sempat ragu soal lokasi di P...

news | 08:15 WIB

Jaksa Agung Muda mengingatkan direksi BUMN agar tidak hanya mengandalkan Business Judgment Rule (BJR) di era KUHP baru y...

news | 07:15 WIB

Ketua Satgas PRR Tito Karnavian dan Mensos Saifullah Yusuf memastikan penyaluran bantuan pascabencana Sumatera tepat sas...

news | 06:00 WIB

Kementan dan BUMN berencana bangun pabrik pengolahan gambir di Sumbar untuk hilirisasi. PTPN IV akan mengelola pabrik di...

news | 15:15 WIB

Kemenhan RI dan Amerika Serikat menyepakati kerja sama pencarian serta repatriasi kerangka prajurit AS korban Perang Dun...

news | 15:12 WIB

KPK menyoroti pengadaan 25.644 motor listrik oleh Badan Gizi Nasional (BGN). Simak analisis KPK terkait kerawanan korups...

news | 12:15 WIB

KPK ungkap inisial ZA sebagai perantara suap 1 juta dolar AS dari Yaqut Cholil Qoumas ke Pansus Haji DPR. Simak kronolog...

news | 11:30 WIB

China peringatkan dampak fatal blokade AS di Selat Hormuz bagi pasokan energi global. Trump ancam eliminasi kapal Iran, ...

news | 10:15 WIB

Presiden Prabowo Subianto tiba di Paris untuk bertemu Emmanuel Macron guna membahas kerja sama strategis dan stabilitas ...

news | 10:06 WIB

Seskab Teddy Indra Wijaya ungkap hasil pertemuan 5 jam Presiden Prabowo dan Putin di Moskow. Bahas ketahanan energi, hil...

news | 09:15 WIB