Kepala Sucofindo Bengkulu dan Direktur Tambang Ditetapkan Tersangka Korupsi Batu Bara Rp500 Miliar

Kejaksaan Tinggi (Kejati) Bengkulu menetapkan dua nama baru sebagai tersangka dalam kasus dugaan korupsi kegiatan produksi dan eksplorasi tambang batu bara milik PT Ratu Samban Mining (RSM) dan PT Tunas Bara Jaya. Mereka adalah Kepala PT Sucofindo Re

Elara | MataMata.com
Selasa, 29 Juli 2025 | 08:30 WIB
Kepala Sucofindo Bengkulu dan Direktur Tambang Ditetapkan Tersangka Korupsi Batu Bara Rp500 Miliar

Kepala Sucofindo Bengkulu dan Direktur Tambang Ditetapkan Tersangka Korupsi Batu Bara Rp500 Miliar

matamata.com - Kejaksaan Tinggi (Kejati) Bengkulu menetapkan dua nama baru sebagai tersangka dalam kasus dugaan korupsi kegiatan produksi dan eksplorasi tambang batu bara milik PT Ratu Samban Mining (RSM) dan PT Tunas Bara Jaya. Mereka adalah Kepala PT Sucofindo Regional Bengkulu Imam Sumantri (IS) dan Direktur PT Ratu Samban Mining Edhie Santosa (EDH).

“Keduanya ditetapkan tersangka terkait kasus dugaan korupsi produksi dan eksplorasi pertambangan milik PT Ratu Samban Mining dan PT Tunas Bara Jaya,” ujar Kepala Kejaksaan Tinggi Bengkulu Victor Antonius Saragih Sidabutar melalui Kepala Seksi Penerangan Hukum Kejati Bengkulu Ristianti Andriani, Senin (29/7).

Penetapan ini menambah daftar tersangka dalam perkara yang sama. Sebelumnya, lima pengusaha tambang telah lebih dulu dijerat, di antaranya Komisaris PT Tunas Bara Jaya Bebby Hussy, General Manager PT Inti Bara Perdana Saskya Hussy, Direktur Utama PT Tunas Bara Jaya Julius Soh, Marketing PT Inti Bara Perdana Agusman, dan Direktur PT Tunas Bara Jaya Sutarman.

Menurut Ristianti, Imam dan Edhie disangkakan melanggar Pasal 2 ayat (1) junto Pasal 18 ayat (2) dan (3) Undang-undang Republik Indonesia Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagaimana telah diubah dengan UU Nomor 20 Tahun 2001. Keduanya juga dijerat dengan Pasal 64 ayat (1) junto Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP.

Kepala Seksi Penyidikan Pidsus Kejati Bengkulu Danang Prasetyo menyebut, para tersangka memiliki peran strategis dalam praktik yang mengakibatkan kerugian negara lebih dari Rp500 miliar.

"Dugaan korupsi ini berkaitan dengan aktivitas pertambangan ilegal, termasuk penjualan batu bara yang tidak sesuai aturan dan kegiatan di dalam kawasan hutan," jelas Danang.

Adapun Izin Usaha Pertambangan (IUP) PT Ratu Samban Mining diketahui sudah bermasalah sejak 2011, sementara praktik penjualan batu bara secara tidak sah terjadi dalam kurun waktu 2021 hingga 2022. (Antara)

×
Zoomed
TERKINI

Kemenko Pangan siapkan program Desa Tematik Perikanan di 40.000 lokasi. Targetkan produksi 1,2 juta ton ikan, suplai MBG...

news | 17:47 WIB

KPK memanggil anak anggota DPR Anwar Sadad sebagai saksi kasus dugaan korupsi dana hibah Pemprov Jatim. Simak daftar len...

news | 15:21 WIB

Menteri Perdagangan Budi Santoso menyatakan bahwa perluasan perjanjian perdagangan internasional dengan Amerika Serikat ...

news | 13:53 WIB

Ketua DPR RI Puan Maharani mendesak penguatan keselamatan transportasi laut menyusul rentetan kecelakaan kapal di awal 2...

news | 13:15 WIB

Mendes PDT Yandri Susanto membantah tegas isu hoaks terkait Koperasi Desa (Kopdes) Merah Putih yang disebut akan mematik...

news | 12:18 WIB