Jokowi Balas Sentilan Anies Baswedan Soal Demokrasi Indonesia Menurun: Ada yang Maki-maki Presiden!

Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengomentari pernyataan Calon Presiden (Capres) Nomor 1, Anies Baswedan menyebut Indeks Demokrasi di Indonesia.

Riki Chandra | MataMata.com
Sabtu, 16 Desember 2023 | 15:40 WIB
Jokowi Balas Sentilan Anies Baswedan Soal Demokrasi Indonesia Menurun: Ada yang Maki-maki Presiden!

Jokowi Balas Sentilan Anies Baswedan Soal Demokrasi Indonesia Menurun: Ada yang Maki-maki Presiden!

matamata.com - Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengomentari pernyataan Calon Presiden (Capres) Nomor 1, Anies Baswedan menyebut Indeks Demokrasi di Indonesia. Hal itu dinyatakan Anies saat Debat Capres 2024 putaran pertama.

"Ya itu sebagai evaluasi," kata Jokowi dikutip dari sejumlah sumber, Sabtu (16/12/2023).

Menurutnya, dalam masa pemerintahannya tidak pernah melakukan pembatasan masyarakat untuk berbicara. Bahkan, ia mencontohkan dirinya juga kerap dicaci-maki oleh masyarakat.

"Tetapi yang jelas kita ini kan tidak pernah melakukan pembatasan-pembatasan apapun, dalam berbicara, dalam berpendapat ada yang maki-maki presiden, ada yang caci maki presiden, ada yang merendahkan presiden, ada yang menjelekkan juga biasa-biasa saja," tegas Jokowi.

Jokowi juga menjelaskan pemerintahannya juga tidak pernah melarang melakukan aksi demo. Terlihat banyaknya demo yang berlangsung setiap minggunya.

"Di Patung Kuda, di depan Istana juga demo juga hampir setiap minggu, setiap hari juga ada. Juga enggak ada masalah," tuturnya.

Sebelumnya, Anies Baswedan mengkritik soal indeks demokrasi Indonesia dan kebebasan bicara yang menurun dalam debat di Kantor KPU, Selasa (12/12/2023) lalu.

Anies menyatakan bahwa rakyat tidak percaya dengan proses demokrasi saat ini yang tidak baik dan tidak dipercaya rakyat.

"Ketika bicara demokrasi minimal 3. Satu, adalah adanya kebebasan berbicara, (kedua) oposisi penyeimbang pemerintah, ketiga ada pemilu, proses pilpres yg netral transparan jurdil," kata Anies.

"Indeks demokrasi kita menurun. Bahkan, pasal kewenangan karet kepada pengkritik misal UU ITE atau Pasal 14 UU no 1 tahun 1946 itu kebebasan berbicara terganggu," lanjutnya.

"Kedua oposisi minim, ujiannya besok bisakah pemilu netralitas. Ketiga, persoalan sekarang lebih luas dari (partai politik) parpol. Parpol perlu mengembalikan kepercayaan ini. Parpol butuh biaya biaya, ini ga pernah diperhatikan untuk kampanye parpol ada biaya sudah seharusnya dihitung benar, sehingga rakyat lihat (dan) bisa dipertanggungjawabkan," katanya.

×
Zoomed
TERKINI

PLN Batam berhasil memulihkan pasokan listrik akibat pemadaman meluas sejak Senin. PLN juga menyiapkan kompensasi otomat...

news | 10:30 WIB

Pemerintah mengerahkan 60.000 lebih personel gabungan serta operasi udara dan OMC untuk mengatasi pemadaman karhutla sel...

news | 10:15 WIB

Peringati Hari Museum Indonesia, Presiden Prabowo Subianto mengunjungi Museum Nasional bersama pelajar dan menargetkan r...

news | 09:36 WIB

Komite FFI resmi mengumumkan daftar nominasi Piala Citra Festival Film Indonesia 2026. Simak daftar lengkap nominasi fil...

news | 09:00 WIB

Menlu Arrmanatha Nasir menegaskan pelindungan WNI tetap jadi prioritas usai Kemlu tuntaskan 124 ribu kasus. Simak arah d...

news | 08:00 WIB