Kemensos Siagakan Tagana di Daerah Rawan Air Bersih Akibat Kemarau
matamata.com - Kementerian Sosial (Kemensos) menyiagakan penuh seluruh personel Taruna Siaga Bencana (Tagana) di berbagai daerah. Langkah ini dilakukan untuk mengatasi kelangkaan air bersih akibat bencana kekeringan yang mulai melanda sejumlah wilayah pada musim kemarau tahun ini.
Menteri Sosial Saifullah Yusuf menyatakan bahwa pengerahan sukarelawan penanggulangan bencana tersebut difokuskan pada daerah-daerah yang masuk dalam peta kerawanan tinggi. Kemensos memastikan akan bergerak bersama pemerintah daerah (pemda) setempat.
"Kami siap membantu di daerah-daerah yang rawan kekurangan air bersih. Kami nanti akan berkolaborasi dengan pemerintah daerah untuk membantu apa saja kebutuhan di sana," ujar Saifullah saat ditemui di Jakarta, Kamis (2/7/2026).
Saat ini, Kemensos telah merampungkan pemetaan zonasi wilayah di Indonesia yang paling terdampak oleh fenomena hidrometeorologi kering tersebut. Beberapa wilayah yang menjadi atensi khusus antara lain Provinsi Jawa Timur, serta sebagian besar daerah di Sumatra dan Nusa Tenggara. Kawasan-kawasan ini dilaporkan memiliki suhu udara paling panas dan rentan kekeringan.
Saifullah mencontohkan Kabupaten Bojonegoro di Jawa Timur. Secara historis, wilayah ini rutin mendapatkan intervensi bantuan pengiriman air bersih dari Kemensos saat musim kemarau tiba.
Melalui pemetaan komprehensif ini, personel Tagana di daerah akan diterjunkan secara taktis. Mereka bakal memberikan dukungan logistik dan operasional langsung di titik-titik krisis yang membutuhkan suplai air.
Pemetaan zona intervensi Kemensos ini juga merujuk pada laporan analisis iklim Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG). Berdasarkan data BMKG, hingga akhir Mei 2026, perluasan wilayah kekeringan telah dimulai pada 200 zona musim (11,83 persen daratan).
Pergerakan zona kering tersebut melonjak pada Juni dengan memasuki 198 zona musim baru atau setara 31,6 persen luas daratan. Wilayahnya mencakup DKI Jakarta bagian selatan hingga sebagian besar Pulau Kalimantan.
Memasuki bulan Juli, pergerakan kemarau diprediksi merambah 66 zona musim lainnya. Wilayah terdampak meliputi sebagian besar Sumatra (termasuk Jambi bagian barat), sebagian besar Jawa, Kalimantan Timur, Kalimantan Selatan bagian timur, sebagian besar Sulawesi, hingga Maluku Utara.
"Tagana selalu siap bekerja sama dengan pemda. Langkah respons cepat ini mengedepankan prinsip kemitraan erat agar penyaluran bantuan sarana air bersih berjalan efektif, tepat sasaran, dan tidak tumpang tindih di lapangan," pungkasnya. (Antara)