China Dukung Peringatan IMF: Konflik Timur Tengah Ancam Keamanan Energi Global

China dan IMF memperingatkan ancaman krisis ekonomi global akibat blokade Selat Hormuz. Penurunan pasokan minyak 13% hantui pasar dunia.

Elara | MataMata.com
Kamis, 16 April 2026 | 11:05 WIB
China Dukung Peringatan IMF: Konflik Timur Tengah Ancam Keamanan Energi Global

China Dukung Peringatan IMF: Konflik Timur Tengah Ancam Keamanan Energi Global

matamata.com - Pemerintah China menyatakan kesepakatannya dengan laporan Dana Moneter Internasional (IMF) yang menyebut konflik bersenjata di Timur Tengah tengah memicu krisis ekonomi global dan mengancam keamanan energi.

Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China, Guo Jiakun, menegaskan bahwa eskalasi militer tersebut membawa dampak buruk yang parah bagi kesejahteraan masyarakat dunia.

"Laporan IMF membuktikan bahwa perang ini tidak hanya memakan korban jiwa, tetapi juga menghambat pertumbuhan ekonomi global. Ini adalah perang yang seharusnya tidak terjadi," ujar Guo dalam konferensi pers di Beijing, Rabu (15/4/2026).

Sebelumnya, Direktur Pelaksana IMF Kristalina Georgieva mengungkapkan bahwa konflik di kawasan tersebut telah mengganggu pasokan energi secara drastis. Gangguan distribusi minyak mencapai 13 persen dan gas alam cair (LNG) menyusut hingga 20 persen per hari.

Menanggapi hal itu, Guo Jiakun mendesak komunitas internasional untuk melindungi negara-negara berkembang agar tidak menanggung beban ekonomi dari konflik ini. Ia menekankan bahwa prioritas utama dunia saat ini adalah menghentikan pertempuran dan memulihkan stabilitas di Teluk.

"Lalu lintas melalui Selat Hormuz harus segera dilanjutkan. Hal ini krusial untuk mencegah dampak yang lebih besar pada keamanan energi atau bahkan krisis kemanusiaan yang lebih luas," tambah Guo.

Ancaman Inflasi dan Kelangkaan Energi IMF memprediksi gangguan pasokan ini akan memicu penutupan kilang serta krisis pangan dan bahan bakar.

Georgieva memperingatkan bahwa kenaikan harga minyak sebesar 10 persen dalam jangka panjang dapat mengerek inflasi global hingga 40 basis poin, sekaligus memangkas output global sebesar 0,1 hingga 0,2 persen.

Kondisi pada bulan April diprediksi akan jauh lebih berat dibandingkan Maret. "Kapal tanker yang berangkat sebelum akhir Februari telah sampai di tujuan, namun tidak ada pengiriman baru yang datang akibat blokade," jelas Georgieva.

Sebagai solusi jangka pendek, IMF menyarankan negara-negara untuk mengadopsi kebijakan penghematan energi, termasuk penyediaan transportasi umum gratis dan mendorong skema kerja jarak jauh (work from home).

Baca Juga: Adegan Seru Suami-Istri! Zee Asadel dan Emir Mahira di Film 'Kupilih Jalur Langit'

Krisis ini bermula dari eskalasi konflik antara Amerika Serikat dan Iran sejak akhir Februari lalu, yang berujung pada blokade de facto di Selat Hormuz. Jalur ini merupakan urat nadi pengiriman minyak dan LNG dari Teluk Persia ke pasar dunia.

Situasi semakin tegang setelah Angkatan Laut AS mulai memblokade lalu lintas maritim di pelabuhan-pelabuhan Iran sejak Senin (13/4/2026). (Antara)

×
Zoomed
Berita Terkait TERKINI

Kantor SAR Natuna mencetak 29 tenaga terlisensi Medical First Responder (MFR) usai jalani pelatihan intensif penanganan ...

news | 18:44 WIB

Menteri ATR Nusron Wahid meminta STPN Sleman menjaga tradisi dialektika berpikir dengan menghadirkan ruang diskusi bersa...

news | 18:41 WIB

Ketua DPR RI Puan Maharani mendesak pemerintah menerapkan satu kendali dalam penanganan karhutla serta mengawal ketat pe...

news | 18:38 WIB

Wapres Gibran Rakabuming meninjau pembangunan Jembatan Garoga di Tapanuli Selatan dan meminta percepatan pemulihan pasca...

news | 18:34 WIB

Peneliti Indikator Politik Indonesia menilai diplomasi Presiden Prabowo Subianto di Eastern Economic Forum (EEF) 2026 di...

news | 09:45 WIB