Blokade Selat Hormuz: China Sebut Langkah Amerika Serikat Tak Selesaikan Masalah

China peringatkan dampak fatal blokade AS di Selat Hormuz bagi pasokan energi global. Trump ancam eliminasi kapal Iran, lalu lintas minyak dunia berhenti total.

Elara | MataMata.com
Selasa, 14 April 2026 | 10:15 WIB
Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China Guo Jiakun. /ANTARA/Desca Lidya Natalia.

Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China Guo Jiakun. /ANTARA/Desca Lidya Natalia.

Matamata.com - Pemerintah China mengkritik keras langkah Amerika Serikat (AS) yang melakukan blokade terhadap jalur maritim di Selat Hormuz. Beijing menilai tindakan sepihak Washington pasca-kegagalan perundingan di Islamabad tersebut tidak akan menyelesaikan akar masalah konflik.

"Akar penyebab gangguan di Selat Hormuz adalah konflik militer. Untuk menyelesaikan masalah ini, konflik harus dihentikan sesegera mungkin," tegas Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China, Guo Jiakun, dalam konferensi pers di Beijing, Selasa (14/4/2026).

Guo mengingatkan bahwa Selat Hormuz merupakan urat nadi perdagangan internasional, terutama untuk komoditas energi. Ia menegaskan, stabilitas di wilayah tersebut adalah kepentingan bersama komunitas global.

Ancaman 'Eliminasi' dari Trump Ketegangan ini memuncak setelah Komando Pusat (CENTCOM) AS mulai memberlakukan blokade total pada Senin (13/4) pukul 14.00 waktu setempat. Langkah ini diambil atas instruksi Presiden Donald Trump menyusul buntuya negosiasi antara Washington dan Teheran.

Melalui unggahan di platform Truth Social, Trump memberikan peringatan keras bahwa kapal-kapal Iran akan "dimusnahkan" jika nekat mendekati zona blokade.

"Jika ada kapal (Iran) yang mendekati blokade kami, mereka akan segera dieliminasi menggunakan sistem yang sama dengan yang kami gunakan terhadap pengedar narkoba," tulis Trump.

 Eskalasi ini bermula dari gagalnya kesepakatan dalam pertemuan tingkat tinggi di Islamabad, Pakistan, Sabtu (11/4). Delegasi AS yang dipimpin Wakil Presiden J.D. Vance pulang tanpa hasil.

Menteri Luar Negeri Iran, Seyed Abbas Araghchi, menuding sikap "maksimalis" dan ancaman blokade dari Angkatan Laut AS sebagai penyebab utama gagalnya nota kesepahaman (MoU).

"Kami terlibat dengan iktikad baik untuk mengakhiri perang. Namun, saat tinggal selangkah lagi menuju 'MoU Islamabad', kami justru menghadapi tuntutan yang berubah-ubah. Permusuhan hanya akan melahirkan permusuhan," ujar Araghchi via akun X miliknya.

Merespons blokade AS, Garda Revolusi Iran (IRGC) mengeluarkan ancaman tandingan. Mereka menyatakan bahwa tidak ada pelabuhan di Teluk dan Laut Oman yang akan aman selama blokade diberlakukan. IRGC menegaskan akan melarang kapal-kapal yang berafiliasi dengan musuh untuk melintasi selat tersebut.

Baca Juga: Maraton 5 Jam di Kremlin, Prabowo dan Putin Sepakati Kerja Sama Energi hingga Hilirisasi

Pantauan terkini menunjukkan pengiriman melalui Selat Hormuz berhenti total. Kapal-kapal tanker mulai berbalik arah guna menghindari zona konflik. Sebagai informasi, Selat Hormuz merupakan jalur vital bagi 20 persen pasokan minyak bumi dan gas alam cair (LNG) dunia. (Antara)

×
Zoomed
Berita Terkait TERKINI

Pemerintah Amerika Serikat (AS) menyita aset kripto Iran senilai Rp17,8 triliun. Menkeu AS Scott Bessent sebut siap inca...

news | 16:39 WIB

PBNU meminta masyarakat tidak memberi stigma negatif pada institusi pondok pesantren akibat kasus kekerasan seksual oleh...

news | 16:29 WIB

Gedung Putih menegaskan Presiden AS Donald Trump hanya akan menerima kesepakatan nuklir dengan Iran yang menguntungkan A...

news | 15:00 WIB

Menhan AS Pete Hegseth beri peringatan keras ke China di Shangri-La Dialogue. AS siap gelontorkan anggaran militer Rp26....

news | 14:57 WIB

Megawati Soekarnoputri diperkirakan hadir dalam Puncak Peringatan Hari Lahir Pancasila 1 Juni 2026 di Gedung Pancasila. ...

news | 14:15 WIB

Presiden Prabowo Subianto tiba di Jakarta usai kunjungan kenegaraan ke Prancis. Indonesia sukses kantongi 4 kesepakatan ...

news | 14:11 WIB

Kantor Imigrasi Kelas I Khusus TPI Soekarno-Hatta mengungkap dua modus utama yang kerap digunakan calon jamaah haji nonp...

news | 13:59 WIB

Ratusan warga Teheran, Iran, konsisten turun ke jalan selama hampir 90 hari. Mereka menegaskan dukungan penuh pada pemer...

news | 13:53 WIB

Bareskrim Polri sidik dugaan manipulasi data ekspor (under invoicing) sawit oleh PT MMS. Kantor di Jakarta Utara dan gud...

news | 11:15 WIB

Iran menegaskan kesepakatan final dengan Amerika Serikat (AS) terganjal tuntutan berlebihan dari Washington. Simak krono...

news | 09:52 WIB