Gubernur Khofifah Serukan Aksi Bersama Hapuskan Pekerja Anak di Jatim

Memperingati Hari Dunia Menentang Pekerja Anak yang jatuh pada 12 Juni 2025, Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa mengajak seluruh elemen masyarakat untuk menghentikan praktik pekerja anak di wilayahnya.

Elara | MataMata.com
Kamis, 12 Juni 2025 | 19:15 WIB
Gubernur Khofifah Serukan Aksi Bersama Hapuskan Pekerja Anak di Jatim

Gubernur Khofifah Serukan Aksi Bersama Hapuskan Pekerja Anak di Jatim

matamata.com - Memperingati Hari Dunia Menentang Pekerja Anak yang jatuh pada 12 Juni 2025, Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa mengajak seluruh elemen masyarakat untuk menghentikan praktik pekerja anak di wilayahnya.

“Anak-anak di bawah usia 17 tahun seharusnya mendapatkan hak pendidikan, perlindungan, dan kasih sayang, bukan bekerja,” ujarnya dalam keterangan tertulis yang diterima di Surabaya, Kamis (12/6).

Khofifah mengungkapkan bahwa Indonesia, termasuk Jawa Timur, saat ini menghadapi kondisi darurat pekerja anak. Merujuk data Badan Pusat Statistik (BPS) 2023, persentase pekerja anak usia 10–17 tahun secara nasional mencapai 2,39 persen, sementara di Jawa Timur tercatat sebesar 1,56 persen.

Ia menjelaskan, sektor formal umumnya telah memiliki pengawasan dan regulasi yang mencegah keberadaan pekerja anak. Namun, tantangan utama datang dari sektor informal dan usaha kecil menengah yang belum sepenuhnya tercatat dan terpantau.

“Anak-anak usia SD dan SMP semestinya berada di ruang kelas, bukan di tempat kerja. Ini menjadi tanggung jawab kita bersama,” tegasnya.

Pemprov Jatim, lanjut Khofifah, terus berupaya menghapus pekerja anak melalui langkah preventif, penarikan anak dari dunia kerja, serta mengembalikan mereka ke jalur pendidikan. Upaya tersebut juga dibarengi dengan penguatan ekonomi keluarga melalui pemberdayaan perempuan.

Ia menambahkan, praktik eksploitasi anak masih ditemukan di sejumlah sektor seperti perikanan, industri rumahan, pekerjaan rumah tangga, anak jalanan, eksploitasi seksual komersial anak (ESKA), hingga konstruksi.

“Hati siapa yang tidak terenyuh melihat anak kecil dipaksa melakukan pekerjaan berat,” tuturnya.

Khofifah menekankan pentingnya sinergi semua pihak, mulai dari pemerintah, tokoh masyarakat, dunia usaha, hingga masyarakat umum dalam menghentikan eksploitasi anak.

“Kami tidak bisa bekerja sendiri. Butuh dukungan semua pihak. Laporkan jika melihat kasus eksploitasi anak demi mewujudkan Indonesia Emas 2045,” pungkasnya. (Antara)

Baca Juga: IHSG Tertekan Sentimen Global, Komoditas Melemah dan Tarif Dagang Membayangi

×
Zoomed
Berita Terkait TERKINI

Kemenhut mendeteksi 1.532 titik panas karhutla per 20 September 2026. Kalteng dan Sumsel jadi fokus utama dengan pengera...

news | 14:30 WIB

Mentan Andi Amran Sulaiman menggandeng 44 bupati dan menyiapkan lahan 2 juta hektare untuk mempercepat pengembangan kawa...

news | 15:20 WIB

Kemendag memprediksi realisasi DMO Minyakita September 2026 naik seiring peningkatan ekspor CPO. Distribusi ke Indonesia...

news | 13:53 WIB

Menkeu Suahasil Nazara melantik pejabat Kemenkeu dan KSSK. Ia menegaskan pentingnya pemahaman perilaku wajib pajak, peng...

news | 13:15 WIB

Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung memaparkan strategi penanganan macet dan banjir Jakarta saat bertemu Wali Kota New Yo...

news | 12:15 WIB