Impor Singkong Dihentikan, Harga Petani Naik dan Industri Bioetanol Merekah
matamata.com - Kebijakan pemerintah menghentikan impor singkong mulai membuah hasil positif bagi petani domestik. Selain mendongkrak harga di tingkat petani hingga mencapai Rp2.400 per kilogram, kebijakan ini juga membuka peluang pasar baru melalui pengembangan industri bioetanol nasional.
Ketua Umum Masyarakat Singkong Indonesia (MSI), Arifin Lambaga, menyampaikan apresiasi atas langkah tegas Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman dan Presiden dalam mengendalikan pasokan impor.
"Alhamdulillah, terutama di Lampung sebagai salah satu sentra produksi, harganya sudah bagus, sekitar Rp2.400 per kilogram. Kami berterima kasih atas kebijakan stop impor ini," ujar Arifin usai melakukan audiensi dengan Mentan Amran di Jakarta, Rabu (24/9).
Arifin menjelaskan, berkurangnya pasokan impor membuat ruang pasar domestik kian terbuka bagi hasil panen lokal. Menurutnya, penguatan pasar domestik ini perlu diimbangi dengan peningkatan produksi secara bertahap, terlebih seiring dengan dorongan pemerintah mengembangkan bioetanol sebagai bahan bakar ramah lingkungan.
Untuk mendukung program pencampuran bahan bakar E20 (20 persen bioetanol), industri membutuhkan pasokan hingga 2,2 juta kiloliter bioetanol. Skala kebutuhan yang besar ini dinilai menjadi angin segar bagi peningkatan nilai ekonomi komoditas singkong.
"Ini pasar yang sangat besar bagi kita. Kami siap 100 persen mendukung program pemerintah menuju E20. Yang penting pasokan bahannya terjamin," tegas Arifin.
Guna memenuhi kebutuhan bahan baku tersebut, MSI siap berpartisipasi dalam pengembangan sekitar 500 ribu hektare lahan singkong. Namun, Arifin menekankan pentingnya penguatan sektor hulu, seperti kepastian ketersediaan benih unggul bertingkat kadar pati tinggi, pupuk, alat mesin pertanian (alsintan), serta akses pembiayaan.
"Satu hektare lahan membutuhkan sekitar 8.000 hingga 10.000 stek. Jadi untuk ratusan ribu hektare, butuh penyediaan benih unggul berproduksi tinggi dalam jumlah sangat besar. Sebab, pengolahan bioetanol sangat bergantung pada kadar pati singkong," jelasnya.
Di sisi hilir, MSI telah menjajaki komunikasi dengan sejumlah investor yang berminat membangun fasilitas pengolahan bioetanol berbasis singkong. Arifin menilai kepastian pembeli (off-taker) menjadi kunci utama agar investasi dapat segera terealisasi dan hasil panen petani terserap optimal.
Ia mengusulkan agar industri bioetanol dikembangkan secara bertahap dan terintegrasi dengan sentra produksi melalui pola kemitraan inti-plasma.
Baca Juga: Mentan Amran Sebut Penyelundupan Beras Ilegal Khianati 115 Juta Petani
Sebelumnya, Kementerian Pertanian sempat menetapkan harga acuan singkong di level Rp1.350 per kilogram. Dengan sinergi antara pemerintah, petani, investor, dan pelaku industri, pengendalian impor diharapkan dapat berjalan beriringan dengan hilirisasi energi nasional. (Antara)