Kementan Targetkan Penghematan Devisa Rp500 Triliun Lewat Pengembangan Bioetanol
matamata.com - Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman menyatakan bahwa pengembangan bioetanol nasional berpotensi menghemat devisa negara hingga Rp500 triliun per tahun. Penghematan tersebut diperoleh dari pengalihan produksi bahan bakar terbarukan yang selama ini diproduksi di luar negeri agar nilai ekonominya dapat berputar di dalam negeri.
"Etanol yang diproduksi negara lain nilainya mencapai Rp500 triliun. Jika nilai tersebut berputar di petani Indonesia, dampaknya akan sangat besar bagi perekonomian nasional," ujar Amran usai Rapat Koordinasi Percepatan Pengembangan Bioetanol bersama 44 bupati di Jakarta, Senin (22/9).
Pemerintah mendorong pengembangan bioetanol berbasis tiga komoditas strategis, yaitu tebu, singkong, dan jagung. Untuk mendukung program ini, disiapkan lahan seluas 1 juta hingga 2 juta hektare sebagai basis produksi bahan baku. Prioritas pemanfaatan lahan diarahkan pada kawasan yang telah dilepaskan dan wilayah yang sesuai untuk tanaman energi.
Pengembangan kawasan bioetanol ini membutuhkan kolaborasi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, BUMN, dan sektor swasta. Sebanyak 44 bupati dari berbagai daerah sentra produksi telah menyatakan komitmennya untuk menyiapkan potensi wilayah dan lahan sesuai kebutuhan industri.
Dari sisi pembiayaan, pemerintah memproyeksikan skema investasi yang melibatkan BUMN dan swasta. "Porsi anggarannya sekitar 30 persen dari BUMN dan 70 persen dari swasta. Investor pasti berminat karena lahannya sudah disiapkan oleh negara," kata Amran.
Amran menegaskan, pengembangan energi terbarukan ini merupakan langkah strategis untuk mewujudkan kedaulatan energi nasional setelah penguatan sektor pangan dan protein. (Antara)