China Desak AS dan Iran Jamin Keamanan Pelayaran di Selat Hormuz
matamata.com - Pemerintah China mendesak Amerika Serikat (AS) dan Iran untuk menjaga keamanan dan kebebasan jalur pelayaran di Selat Hormuz. Permintaan ini mencuat setelah kedua negara kembali terlibat aksi saling serang yang menyasar kapal-kapal di perairan internasional strategis tersebut.
"Selat Hormuz adalah jalur navigasi internasional. Memulihkan pelayaran yang aman dan bebas di selat tersebut secepatnya akan menguntungkan semua pihak," ujar Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China, Lin Jian, dalam konferensi pers di Beijing, Senin (13/7/2026).
Lin Jian menambahkan bahwa penyelesaian yang tepat sangat diperlukan untuk mengatasi masalah navigasi di Selat Hormuz, terutama dalam merespons kekhawatiran komunitas internasional.
China menyatakan kesiapannya untuk terus berkomunikasi dengan negara-negara terkait dan dunia internasional guna meredakan situasi.
Ketegangan terbaru ini dipicu oleh operasi militer Komando Pusat AS (CENTCOM) pada Senin (13/7/2026). CENTCOM mengumumkan telah menggempur puluhan target di berbagai lokasi guna melumpuhkan kemampuan Iran yang terus mengancam pelayaran internasional.
Dalam operasi tersebut, pasukan AS mengerahkan pesawat tempur, kapal perang, serta drone udara dan laut serang sekali pakai (one-way attack drones). Target serangan meliputi sistem pertahanan udara, radar pantai, fasilitas rudal, drone, hingga kapal-kapal kecil milik Iran.
Merespons tindakan Washington, Iran melancarkan serangan balasan pada hari yang sama. Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) mengklaim telah menyerang fasilitas militer AS di lima negara Arab, yaitu Kuwait, Bahrain, Qatar, Yordania, dan Oman.
IRGC menegaskan bahwa satu-satunya cara untuk membuka kembali Selat Hormuz bagi lalu lintas maritim adalah dengan menghentikan campur tangan militer AS di jalur perairan tersebut dan menghormati kedaulatan negara-negara pesisir.
Di sisi lain, CENTCOM menyatakan pasukan AS tetap dalam posisi siaga demi memastikan kebebasan navigasi kapal komersial. AS menuding Iran terus melakukan agresi, intimidasi, dan ancaman tanpa alasan yang jelas di kawasan tersebut.
Eskalasi ini menandai runtuhnya gencatan senjata yang belum genap berusia satu bulan. Sebelumnya, pada 18 Juni lalu, Teheran dan Washington sebenarnya telah menandatangani nota kesepahaman damai yang dimediasi oleh Pakistan.
Kesepakatan tersebut mencakup penghentian pertempuran, pencabutan blokade laut oleh AS, dan pembukaan kembali Selat Hormuz setelah perang sempat pecah pada akhir Februari.
Namun, komitmen damai tersebut goyah ketika kedua negara kembali terlibat saling serang pada 7 Juli lalu terkait hak lintas kapal niaga, yang kemudian memuncak pada pertempuran sengit awal pekan ini. (Antara)