Potret liburan Nana Mirdad dan Andrew White di Swiss. (Instagram/@nanamirdad_)
Matamata.com - Artis Nana Mirdad menjadi sorotan setelah membagikan pengalaman kurang menyenangkan ketika mencoba layanan paylater.
Lewat media sosial, putri dari pasangan Jamal Mirdad dan Lydia Kandou ini mengaku sangat terkejut karena merasa "diteror" oleh penagih utang setelah menggunakan fasilitas pembayaran tersebut.
Nana juga mengungkap kegelisahannya setelah mengetahui bahwa penggunaan paylater ternyata bisa berimbas pada riwayat kredit—atau sering dikenal dengan BI Checking.
Nana Mirdad menceritakan bahwa awalnya ia tertarik menggunakan paylater karena kemudahannya. Namun, tanpa disangka, keputusan itu justru membuatnya harus menghadapi tekanan yang tidak diduga-duga.
Ia menceritakan, ketika melewati batas tempo pembayaran, pihak penagih langsung menghubungi dan mengingatkan secara intens, terasa seperti menghadapi perusahaan pinjaman online (pinjol) yang selama ini dikenal cukup agresif menagih utang.
“Jujur, aku awalnya nggak kepikiran bakal seperti ini. Begitu terlambat membayar, telepon langsung berdering berkali-kali, WhatsApp masuk terus. Suasananya jadi kayak kita terjerat pinjol,” ujar Nana, mengungkapkan kekesalannya.
Ia pun merasa tidak nyaman dengan cara penagihan yang dilakukan, walaupun jumlah nominal yang terlambat dibayar sebenarnya tidak terlalu besar.

Lebih dari itu, Nana merasa masalahnya bertambah setelah menyadari bahwa penggunaan paylater bisa berdampak pada skor kredit yang tercatat di lembaga keuangan dan terlihat dalam BI Checking.
Ia mengaku cukup kaget setelah mengetahui informasi ini, karena awalnya ia mengira fasilitas paylater hanya sebatas alat pembayaran praktis tanpa konsekuensi besar dalam catatan keuangan pribadi.
Baca Juga: Gading Marten Tak Hadir di Pernikahan Luna Maya dan Maxime Bouttier, Ternyata Ada Alasan Tersendiri
“Aku baru tahu ternyata informasi soal keterlambatan pembayaran paylater itu bisa muncul di BI Checking. Ini artinya, kalau sampai berpengaruh buruk, nantinya bisa susah mengajukan kredit atau KPR,” ungkap Nana Mirdad.
Menurutnya, hal ini harus menjadi perhatian bagi masyarakat yang banyak tergiur kemudahan bertransaksi dengan paylater, namun kurang memahami risiko di baliknya.
Nana juga menyampaikan keprihatinannya atas banyaknya masyarakat yang belum paham dampak paylater terhadap skor kredit individunya. Ia berharap agar semua orang, terutama generasi muda yang aktif menggunakan fasilitas digital, mulai lebih waspada dan bijak dalam memilih metode pembayaran.
“Jangan cuma lihat gampangnya saja, tapi harus dipikirkan juga risikonya ke depan. Apalagi buat yang belum pernah cek BI Checking, bisa-bisa urusan paylater ini berpengaruh ke masa depan keuangan kalian. Jangan sampai menyesal kayak aku, sudah diteror, data kredit juga kena dampaknya,” tegas Nana memberi peringatan.

Fenomena ini, menurut Nana, sebaiknya menjadi alarm bagi para pengguna layanan keuangan digital agar selalu membaca syarat dan ketentuan dengan seksama sebelum menggunakan fitur seperti paylater.
Ia menekankan pentingnya disiplin membayar tepat waktu dan mengetahui segala konsekuensi yang mungkin terjadi.
Pengalaman Nana Mirdad menjadi pelajaran berharga bagi masyarakat agar lebih waspada.
Layanan paylater memang memberikan kemudahan, tetapi harus disertai dengan pengelolaan keuangan yang cermat dan kesadaran atas dampaknya terhadap catatan kredit.
Informasi yang jelas serta edukasi keuangan digital pun dinilai Nana semakin penting di tengah maraknya penggunaan layanan teknologi finansial.