World

Rihanna Soroti Demo Petani di India, Kangana Ranaut Malah Komentar Pedas

Kangana Ranaut nyinyir abis ke Rihanna, kenapa?

Yoeni Syafitri Sekar Ayoe

Kangana Ranaut dan Rihanna (Kolase Instagram)
Kangana Ranaut dan Rihanna (Kolase Instagram)

Matamata.com - Seleb Bollywood Kangana Ranaut telah melancarkan serangan lain dalam perang satu sisi di Twitter melawan penyanyi Rihanna. Ini semua bermula pada Selasa kemarin (2/2/2021), Rihana menyoroti protes petani yang sedang berlangsung di India.

Diketahui ribuan petani di India melakukan unjuk rasa sejak akhir Desember 2020. Mereka menolak UU pertanian yang baru disahkan, dan dianggap akan merugikan para petani.

Kangana Ranaut dan Rihanna (Kolase Instagram)
Kangana Ranaut dan Rihanna (Kolase Instagram)

Rihanna pun menyoroti aksi protes petani di India ini. Dia berbagi link berita tentang protes tersebut ke lebih dari 100 juta pengikutnya di Twitter. "Mengapa kita tidak membicarakan ini?" tulis pelantun Umbrella itu.

Namun kepedulian Rihanna mendapatkan reaksi pedas dari seleb Bollywood ternama, Kangana Ranaut. Sang aktris menyebut kalau mereka bukan petani, tapi teroris.

Kangana Ranaut (Twitter/@KanganaTeam)
Kangana Ranaut (Twitter/@KanganaTeam)

"Tidak ada yang membicarakannya karena mereka bukan petani, mereka adalah teroris yang mencoba memecah belah India, sehingga China dapat mengambil alih negara kami yang rentan dan rusak dan menjadikannya koloni China seperti Amerika Serikat ... Duduklah, bodoh, kami tidak menjual negara kami seperti kamu bodoh," kata Kangana Ranaut.

Kangana Ranaut (Twitter/@KanganaTeam)
Kangana Ranaut (Twitter/@KanganaTeam)

"Dia belum merilis satu lagu pun dalam 5 tahun, menjual make up tetapi sepertinya dia merasakan Corona blues, Forbes memperkirakan pendapatan hanya tipuan PR, satu atau dua juta tidak akan merugikan dia sekarang, juga perhatikan di tweet-nya dia tidak berkomitmen untuk pendapat apa pun hanya tweet yang tidak jelas," lanjut Kangana Ranaut tak kalah pedas di tweet lainnya.

Berita Terkait

Berita Terkini

Live Report