Lewat Film Lobang Buaya, Hanung Bramantyo Ingin Buka Ruang Diskusi Soal Kejadian 1965
matamata.com - Sutradara Hanung Bramantyo mencoba membuka kembali ruang diskusi mengenai peristiwa 1965 melalui film terbarunya, Lobang Buaya. Film tersebut mengangkat latar satu tahun sebelum peristiwa 30 September 1965 dengan pendekatan horor dan cerita fiksi.
Menurut Hanung, cerita dalam Lobang Buaya bukanlah kisah nyata. Namun, latar belakang sosial-politik yang menjadi pijakan cerita merujuk pada konteks sejarah yang pernah terjadi.
Film ini terinspirasi dari propaganda Partai Komunis Indonesia (PKI) pada sekitar 1963 mengenai kelompok yang dikenal sebagai "tujuh setan desa".
Istilah tersebut merujuk pada kelompok yang dianggap mengeksploitasi dan menekan masyarakat desa, seperti tuan tanah, kapitalis birokrat, rentenir, tengkulak jahat, pengijon, hingga kelompok yang memiliki kekuasaan.
"Jadi sebenarnya bukan kisah nyata, tetapi latar belakangnya itu nyata. Kalau teman-teman semuanya melihat, membaca sejarah, tahun 1963 PKI melancarkan sebuah propaganda mengganyang tujuh setan desa," kata Hanung saat special screening di Empire XXI, Yogyakarta, Senin (21/9).
Dalam film, latar tersebut dikembangkan menjadi cerita mengenai serangkaian pembunuhan misterius di Desa Lobang Buaya.
Letnan Soegeng, yang diperankan Baskara Mahendra, ditugaskan untuk menyelidiki kasus tersebut dan mencari dalang di balik tragedi yang terjadi setiap tanggal 30.
Para korban ditemukan dengan punggung berlubang dan tubuh penuh sayatan berupa kata-kata sindiran seperti "Tamak", "Lamis", dan "Maruk". Rumor mengenai sosok "Hantu Bolong" kemudian turut memperkeruh suasana.
Horor sebagai Jalan Membicarakan 1965
Hanung memilih horor bukan semata untuk menghadirkan ketegangan. Ia ingin genre tersebut menjadi cara untuk menggambarkan ketakutan masyarakat ketika berhadapan dengan sejarah yang dianggap sensitif.
Baca Juga: DPR Tindak Lanjuti Surat Presiden Prabowo Soal Calon Dubes, Komisi I Ditugaskan
"Saya memilih horor bukan hanya untuk menghadirkan ketegangan, tetapi juga untuk merefleksikan ketakutan dari persoalan kekuasaan, korupsi, dan penindasan," kata Hanung.
Menurutnya, peristiwa 1965 masih menjadi topik yang sensitif di Indonesia. Kondisi tersebut membuatnya melihat adanya keterbatasan untuk mengangkat sejarah melalui film drama secara langsung.
"Di negara lain, film sejarah bisa dibuat bebas, bahkan dengan sudut pandang berbeda dari pemerintah. Di Indonesia, hal itu belum mungkin. Karena itu saya memilih horor agar penonton bisa terpicu untuk berdiskusi," jelasnya.
Hanung juga menyampaikan hal serupa saat berbicara mengenai penayangan film tersebut di Rotterdam.
"Di Indonesia peristiwa 65 masih dianggap sensitif. Jadi tidak boleh kemudian diungkapkan sebagaimana di negara kalian, kalian bisa membuat film drama, film sejarah dengan bebas," ujarnya.
Bagi Hanung, pendekatan tersebut menjadi salah satu cara untuk mengajak penonton memikirkan kembali peristiwa yang selama ini dianggap sensitif.
Ia menilai pembahasan mengenai 1965 saat ini banyak muncul melalui YouTube, tetapi tidak selalu mendapatkan perhatian sebesar konten hiburan.
Melalui cerita tersebut, Hanung juga ingin mengajak penonton melihat kembali persoalan kekuasaan dan ketidakadilan. Ia menganggap konsep "tujuh setan desa" masih memiliki relevansi dengan kondisi sosial saat ini, meski bentuknya telah berubah.
Ia kemudian mengaitkan sosok tuan tanah dengan korporasi, kapitalis birokrat dengan pejabat yang korup, serta rentenir dengan praktik pinjaman daring. Sementara tengkulak dan pengepul, menurutnya, masih dapat ditemukan dalam persoalan perdagangan hasil pertanian.
"Tujuh setan desa itu masih ada, hanya berganti nama. Tuan tanah kini menjadi korporasi, kapitalis birokrat menjadi pejabat korup, rentenir menjelma pinjol, dan pengepul tetap menekan petani," ujarnya.
Hanung juga menyoroti masyarakat yang memilih diam ketika melihat ketidakadilan di sekitarnya.
Film ini akan tayang pada 1 Oktober 2026. Lobang Buaya menjadi medium Hanung untuk menghadirkan cerita sejarah dalam bentuk berbeda sekaligus mengajak penonton membicarakan kembali peristiwa 1965.
"Saya ingin penonton tidak hanya merasakan horor dari cerita, tetapi juga horor dari kenyataan sosial yang masih kita hadapi," tandasnya.