GJLS: Berapi-api Penuh Cerita Kocak, Pemain Hadapi Kobra Asli saat Syuting
matamata.com - Film komedi GJLS: Berapi-api sukses mengundang gelak tawa penonton saat diputar di XXI Jogja City Mall (JCM), Senin (19/10/2026). Tingkah konyol para karakter yang berprofesi sebagai petugas pemadam kebakaran menjadi salah satu daya tarik film yang memadukan humor absurd dengan cerita yang dekat dengan kehidupan masyarakat.
Berbeda dari film pertamanya yang identik dengan komedi absurd, GJLS: Berapi-api menghadirkan alur cerita yang lebih tertata. Tim produksi juga merancang humor yang bisa dinikmati oleh penonton dari berbagai kalangan, termasuk keluarga.
Co-produser GJLS: Berapi- Fiqi Wandiya Septa, mengungkapkan bahwa profesi pemadam kebakaran dipilih karena peran mereka yang kerap membantu masyarakat dalam berbagai situasi tak terduga.
"Keputusan tim produksi untuk memfokuskan cerita pada profesi petugas pemadam kebakaran terbukti sangat tepat. Damkar dikenal sering kali menjadi pahlawan tak terduga yang selalu ada di tengah masyarakat kita," ujar Fiqi Wandiya Septa.
Menurut Fiqi, tugas petugas damkar tidak sebatas memadamkan api. Mereka juga kerap menangani berbagai persoalan yang tidak selalu menjadi tanggung jawab utama instansi lain.
Mulai dari mengevakuasi ular berbisa di rumah warga hingga menyelamatkan kucing yang terjebak di atas pohon, pengalaman tersebut menjadi inspirasi cerita film ini.
Berbagai kejadian itu kemudian diolah menjadi adegan komedi yang menghibur. Salah satunya adalah momen penyelamatan hewan liar yang memadukan situasi menegangkan dengan tingkah konyol para karakter.
Berhadapan dengan Kobra Asli Tanpa Stuntman
Di balik adegan yang mengundang tawa, para pemain ternyata harus menghadapi tantangan yang tidak main-main selama proses syuting.
Salah satu pengalaman paling menegangkan terjadi ketika para aktor harus berhadapan langsung dengan ular kobra asli di sebuah ruangan yang cukup sempit.
Baca Juga: Hasil BCFM 2026: Perputaran Ekonomi Ekraf Kota Bekasi Tembus Rp334 Juta
Rasa takut yang terlihat di wajah para pemain bukan sekadar bagian dari akting. Mereka benar-benar menghadapi ular tersebut tanpa bantuan pemeran pengganti atau stuntman.
Situasi itu semakin menegangkan karena kamera berada di luar area berbahaya. Di dalam ruangan, para pemain harus berhadapan langsung dengan ular kobra saat adegan direkam.
Tantangan serupa juga muncul ketika mereka menjalani adegan pemadaman api. Para pemain terlibat langsung dalam pengambilan gambar yang menggunakan api sungguhan dan harus melewati kepulan asap untuk menghasilkan adegan yang terlihat autentik.
Tak hanya menghadapi situasi berisiko, para pemain juga harus beradaptasi dengan perlengkapan petugas damkar yang berat.
Rigen Rakelna mengungkapkan bahwa jaket pelindung yang digunakan selama syuting memiliki bobot sekitar sepuluh kilogram dalam kondisi kering. Beratnya bahkan bisa bertambah ketika pakaian tersebut terkena air.
"Bobot baju seragam tersebut bisa membengkak drastis hingga dua puluh kilogram saat tersiram air. Ditambah lagi, harus menahan dorongan kuat dari semprotan selang air bertekanan amat tinggi," tutur Rigen Rakelna.
Pengalaman tersebut menjadi tantangan fisik tersendiri bagi para pemain. Mereka harus tetap menjalankan adegan sesuai kebutuhan cerita meski mengenakan perlengkapan berat dan menghadapi tekanan air dari selang pemadam.
Kisah Unik Selama Syuting
Cerita menarik selama produksi ternyata tidak hanya berkaitan dengan adegan berbahaya. Kebiasaan para pemain saat menunggu proses syuting juga menghadirkan pengalaman yang mengundang tawa.
Cuaca hujan yang kerap menghambat pengambilan gambar membuat para pemain memiliki waktu luang di sela-sela pekerjaan. Mereka biasanya memanfaatkan kesempatan tersebut untuk berkumpul sambil menyantap bakso hangat dan berbagai camilan malam.
Namun, kebiasaan makan bersama itu justru menimbulkan kejadian tak terduga. Ukuran tubuh para pemain perlahan berubah selama proses syuting berlangsung.
Akibatnya, tim penata busana sempat memberikan teguran karena seragam petugas damkar yang mereka kenakan mulai terasa sempit. Kostum yang sebelumnya pas di badan perlahan tak lagi nyaman digunakan.
Kejadian tersebut menjadi salah satu cerita unik di balik proses produksi GJLS: Berapi-api, di tengah berbagai tantangan yang harus dihadapi para pemain.
Improvisasi Tetap Ada, tetapi Cerita Lebih Terarah
Selain mengandalkan aksi para pemain, kekuatan komedi film ini juga didukung proses pengembangan naskah yang lebih terstruktur. Keterlibatan Bang Awe dalam penyusunan alur cerita membantu membangun fondasi humor yang tetap terhubung dengan jalan cerita.
Sutradara Monty Tiwa juga memberikan ruang kepada para aktor untuk berkreasi di depan kamera. Improvisasi yang muncul secara spontan tetap mendapat tempat selama proses pengambilan gambar.
Perpaduan antara naskah yang lebih tertata dan improvisasi para pemain membuat lelucon dalam film dapat tersampaikan dengan baik. Sejumlah humor berulang pun berhasil mengundang tawa penonton sepanjang pemutaran.
Melalui kombinasi komedi absurd, pengalaman syuting yang penuh tantangan, dan cerita tentang keseharian petugas damkar, GJLS: Berapi-api menawarkan warna berbeda dalam film komedi Indonesia.
Film yang dibintangi Ananta Rispo sebagai Rispo, Rigen Rakelna sebagai Rigen, dan Hifdzi Khoir sebagai Hifdzi ini dijadwalkan tayang serentak di bioskop seluruh Indonesia pada 5 November 2026.