Polemik Teddy Indra Wijaya Setir Mobil Golf di Prambanan, Ini Kata Pengamat
matamata.com - Pengamat politik Hendri Satrio (Hensa) meminta publik tidak membesar-besarkan polemik Sekretaris Kabinet (Seskab) Teddy Indra Wijaya yang mengendarai mobil golf dalam kunjungan kenegaraan di kawasan Candi Prambanan. Menurutnya, momen tersebut murni bagian dari pembagian tugas dan protokol kepresidenan.
Sebelumnya, momen tersebut sempat menuai sorotan netizen setelah Menteri Kebudayaan Fadli Zon terlihat berjalan kaki, sementara Teddy mengemudikan mobil golf yang ditumpangi Presiden RI Prabowo Subianto dan Perdana Menteri India Narendra Modi.
Founder Lembaga Survei KedaiKOPI tersebut menilai, situasi di lapangan sudah disesuaikan dengan fungsi masing-masing pejabat yang mendampingi Presiden.
"Lagi-lagi Teddy mendapat sorotan karena mengendarai mobil golf yang ditumpangi Presiden Prabowo Subianto dan Perdana Menteri India Narendra Modi, sementara Fadli Zon berjalan kaki. Menurut saya, tidak ada yang salah dengan situasi itu. Justru akan lebih aneh kalau yang mengemudikan mobil golf itu Fadli Zon," kata Hensa dalam keterangan tertulisnya di Jakarta, Minggu (12/7).
Hensa menjelaskan, Fadli Zon memiliki tugas yang berbeda selama kunjungan tersebut, yakni memberikan penjelasan substantif terkait kawasan Candi Prambanan. Oleh karena itu, konsentrasi Menteri Kebudayaan akan terpecah jika ia dipaksa mengemudikan kendaraan.
"Maka dia (Fadli Zon) akan kesulitan bicara, menjelaskan sekaligus menyetir dan memberikan arahan-arahan. Itu malah makin membingungkan," ujarnya.
Sebaliknya, Hensa menilai peran Teddy sebagai Seskab membuatnya wajar menjalankan tugas teknis demi memastikan mobilitas Presiden berjalan lancar. Ia juga melihat Presiden Prabowo tidak mempermasalahkan hal tersebut.
"Teddy menjabat sebagai Seskab sehingga sangat mungkin salah satu tugasnya adalah memastikan mobilitas Presiden berjalan lancar, termasuk ketika harus mengemudikan kendaraan di area yang menggunakan mobil golf. Dari yang terlihat, Pak Prabowo tampak nyaman dengan itu," tutur Hensa.
Oleh karena itu, Hensa mengimbau publik untuk tidak terburu-buru menyimpulkan kejadian tersebut sebagai bentuk privilege atau perlakuan istimewa.
"Dalam sebuah kunjungan kenegaraan, pembagian tugas sering kali sangat praktis. Ada yang bertugas mendampingi dan menjelaskan, ada yang memastikan mobilitas Presiden berjalan dengan baik. Selama tugas masing-masing berjalan, saya kira tidak ada masalah yang perlu dibesar-besarkan," pungkasnya. (Antara)