Kepala Badan Perakitan dan Modernisasi Pertanian (BRMP), Fadjry Djufry (kanan) memberi penjelasan kepada Menteri Pertanian Amran Sulaiman (dua dari kanan) terkait teknologi bioreaktor yang mampu mengubah minyak sawit mentah (CPO) menjadi B100 di ajang Pekan Nasional (PENAS) Petani Nelayan XVII di Gorontalo, Sabtu (20/6/2026) (Antara/HO/BRMP Kementan)
Matamata.com - Kementerian Pertanian (Kementan) memperkenalkan inovasi teknologi bioreaktor yang mampu mengubah minyak sawit mentah atau Crude Palm Oil (CPO) menjadi bahan bakar nabati 100 persen (B100). Inovasi bertajuk Warehouse Hilirisasi Perkebunan ini dipamerkan dalam ajang Pekan Nasional (PENAS) Petani Nelayan XVII di Gorontalo.
Teknologi bioreaktor tersebut dikembangkan oleh Kementan melalui Badan Perakitan dan Modernisasi Pertanian (BRMP), berkolaborasi dengan Direktorat Jenderal Perkebunan serta Direktorat Jenderal Prasarana dan Sarana Pertanian.
Kepala BRMP, Fadjry Djufry, menyatakan bahwa teknologi ini menawarkan solusi energi alternatif berbasis kelapa sawit domestik untuk menghasilkan biosolar B100 secara mandiri.
"Inovasi ini merupakan langkah strategis dalam mendorong transisi energi nasional berbasis sumber daya domestik, sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap impor bahan bakar minyak," ujar Fadjry dalam keterangan tertulisnya di Jakarta, Senin (22/6/2026).
Fadjry menegaskan, modernisasi pertanian saat ini tidak lagi hanya berfokus pada peningkatan produksi hulu, melainkan pada hilirisasi. Langkah ini penting agar komoditas perkebunan Indonesia memiliki nilai tambah yang jauh lebih tinggi.
Kehadiran Warehouse Hilirisasi Perkebunan di ajang PENAS XVII juga diproyeksikan sebagai akselerator transfer teknologi langsung kepada para petani, penyuluh, dan pelaku usaha di daerah.
"Melalui Gelar Teknologi ini, kami ingin memastikan inovasi tidak berhenti di laboratorium atau pameran saja, tetapi benar-benar diadopsi oleh petani di lapangan. Hilirisasi harus menjadi gerakan bersama," tambahnya.
Sebelumnya pada hari pertama kegiatan, Sabtu (20/6/2026), Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman telah meninjau langsung stan Gelar Teknologi Hilirisasi Perkebunan tersebut sebelum acara pembukaan resmi oleh Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka.
Selain teknologi pengolahan B100, stan tersebut juga memamerkan teknologi produksi Virgin Coconut Oil (VCO) metode kering yang diklaim lebih efisien dan ramah lingkungan.
Tidak hanya sektor energi, Kementan juga menampilkan berbagai produk pangan inovatif berbasis kelapa sawit yang kaya Vitamin A dan E untuk mendukung program pangan bergizi dan pencegahan stunting. Beberapa di antaranya adalah Minyak Makan Merah, Oleofood Sawit, Jamur Sawit, hingga Gula Merah Sawit.
Baca Juga: Kadin Indonesia Respons Keluhan Investor China soal Regulasi Tambang Nikel
Kehadiran teknologi bioreaktor ini mendapat respons positif dari pengunjung. Inovasi ini dinilai memberikan gambaran nyata mengenai kontribusi sektor perkebunan sawit dalam memperkuat bauran energi nasional, mulai dari pengembangan B35, B50, hingga pemanfaatan limbah menjadi biogas dan biopelet.
Sebagai informasi, PENAS Petani Nelayan XVII berlangsung pada 20–25 Juni 2026 di kawasan GORR David-Tony, Kabupaten Gorontalo. Ajang ini menjadi wadah kolaborasi, temu karya, dan kemitraan antara petani, nelayan, penyuluh, akademisi, serta pelaku usaha dari seluruh Indonesia. (Antara)