Keunikan Perayaan Idul Adha di Negeri Ibnu Khaldun

Suasana perayaan Idul Adha di Tunisia berlangsung meriah, baik sebelum maupun saat hari puncak, berbeda dengan perayaan Idul Fitri yang cenderung lebih sederhana di negara tersebut.

Elara | MataMata.com
Sabtu, 07 Juni 2025 | 18:13 WIB
Shalat Idul Adha di Negeri Ibnu Khaldun. (Foto: Antara)

Shalat Idul Adha di Negeri Ibnu Khaldun. (Foto: Antara)

Matamata.com - Suasana perayaan Idul Adha di Tunisia berlangsung meriah, baik sebelum maupun saat hari puncak, berbeda dengan perayaan Idul Fitri yang cenderung lebih sederhana di negara tersebut.

Pada Jumat (6/6), sejumlah warga negara Indonesia (WNI) di Tunisia melaksanakan salat Idul Adha di Jami’ Zaitunah dan Wisma KBRI Tunisia. Wisma KBRI menjadi pusat berkumpulnya para WNI untuk menikmati kuliner khas Nusantara dan mempererat tali silaturahmi guna mengobati rasa rindu terhadap kampung halaman.

Perbedaan budaya antara Indonesia dan Tunisia dalam merayakan Idul Adha sangat terlihat. Di Tunisia, masyarakat setempat menyambut Idul Adha dengan penuh semarak, bahkan sejak beberapa hari sebelumnya.

Kontras dengan di Indonesia, di mana perayaan lebih besar biasanya terjadi saat Idul Fitri yang identik dengan tradisi mudik dan berkumpul bersama keluarga besar.

Menyambut Idul Adha, masyarakat Tunisia menggelar berbagai kegiatan seperti konser bernuansa Islami dan pertunjukan budaya tradisional, yang bertujuan menciptakan suasana ketenangan dan kenyamanan bagi para hadirin.

Selain itu, digelar pula lomba tilawatil Quran yang terbuka bagi seluruh peserta tanpa memandang kewarganegaraan. Mahasiswa Indonesia secara rutin turut berpartisipasi dalam ajang ini.

Dua tahun lalu, seorang mahasiswa Indonesia berhasil meraih juara dalam lomba tersebut dan mendapat apresiasi dari masyarakat lokal maupun komunitas internasional di Tunisia. Kegiatan ini marak diadakan di berbagai kota, termasuk Kairouan, dan selalu mendapat sambutan hangat dari masyarakat setempat.

KBRI Tunisia secara rutin menyelenggarakan open house setiap Idul Fitri dan Idul Adha, mengundang WNI untuk melaksanakan salat Idul dan menjalin kebersamaan. Kepedulian ini mendapat perhatian karena tidak semua kedutaan besar di Tunisia menyediakan fasilitas serupa bagi warga Muslimnya.

Pada Idul Adha tahun ini, KBRI menggelar serangkaian kegiatan mulai dari laporan ketua pelaksana, sambutan Duta Besar RI untuk Tunisia, salat Idul Adha, hingga tausiah.

Duta Besar RI, Zuhairi Misrawi, dalam sambutannya menyampaikan bahwa makna Idul Adha tidak hanya terletak pada simbol sejarah antara Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail, tetapi juga pada nilai-nilai pengorbanan dan keikhlasan yang perlu diteladani.

Baca Juga: Gibran: Ekonomi Syariah Jadi Strategi Menuju Indonesia Maju

"Seharusnya nilai tersebut yang diamalkan dan diingat ketika perayaan Idul Adha ini," ujarnya.

Kegiatan dilanjutkan dengan santap bersama kuliner Nusantara yang menjadi ajang silaturahmi dan berbagi cerita di antara sesama WNI.

Pada malam harinya, KBRI kembali mengundang WNI untuk berkumpul, menikmati sajian sate, dan mempererat kebersamaan. Rutinitas ini menjadi bagian dari upaya KBRI untuk memperkuat ikatan komunitas Indonesia di Tunisia.

Sementara itu, Persatuan Pelajar Indonesia (PPI) Tunisia menerima bantuan hewan kurban dari INH Community dan Universitas Az-Zaitunah. Tahun ini, WNI di Tunisia berkurban satu ekor sapi dan empat ekor kambing yang dikelola oleh PPI. Seluruh daging kurban didistribusikan kepada WNI yang tinggal di Tunisia.

Pemotongan hewan dilakukan oleh mahasiswa Indonesia yang memiliki keahlian, serta melibatkan mahasiswa lain untuk belajar dan memahami proses penyembelihan sesuai syariat.

Keunikan lain dari perayaan Idul Adha di Tunisia adalah cara penyimpanan dan penyembelihan hewan kurban. Tidak seperti di Indonesia yang terpusat di masjid atau lingkungan warga, masyarakat Tunisia biasanya menyimpan hewan kurban di rumah masing-masing dan menyembelihnya secara pribadi.

Perbedaan budaya ini menjadi pengalaman tersendiri bagi WNI, khususnya mahasiswa, yang merayakan Idul Adha jauh dari Tanah Air. Keberagaman dalam praktik keagamaan ini menunjukkan bahwa nilai-nilai Islam dapat bersinergi dengan budaya lokal di setiap negara.

Tunisia, negeri kelahiran sejarawan ternama Ibnu Khaldun, masih menyimpan banyak kekayaan budaya yang belum terekspos luas. (Antara)

×
Zoomed
Berita Terkait TERKINI

KidZania Jakarta menawarkan aktivitas seru untuk anak....

life | 11:49 WIB

Ada beberapa opsi yang bisa Anda pilih untuk menuju pusat kota Kuala Lumpur dari KLIA dan KLIA2 dengan berbagai keunggul...

life | 15:15 WIB

Dari lineup internasional, band pop-punk asal Inggris Neck Deep akan tampil eksklusif di Asia Tenggara....

life | 17:44 WIB

Abimana Aryasatya dan Morgan Oey ceritakan sulitnya syuting adegan laga 15 menit tanpa jeda di film Ghost in the Cell ka...

life | 06:00 WIB

Yang membuat Chicago The Musical terasa begitu kontemporer bukan hanya estetikanya, melainkan cerminan yang ditawarkanny...

life | 16:30 WIB

Pertunjukan ini menampilkan kualitas triple threat: akting, vokal, dan tari yang solid....

life | 12:58 WIB

Film Pelangi di Mars membawakan kisah seorang anak Indonesia pertama yang lahir di Mars, Pelangi....

life | 15:15 WIB

Film ambisius ini sudah lahir sejak lama, tahun 2020 tepatnya....

life | 15:22 WIB

Perjalanan panjang selama lebih dari lima tahun ini melibatkan ratusan talenta terbaik dari seluruh penjuru Indonesia....

life | 12:03 WIB

Anies membagikan refleksinya yang mendalam tentang bagaimana film ini berhasil memotret sosok ibu secara utuh....

life | 11:15 WIB