Danantara Terlibat Pembangunan Rel Kereta Api Luar Jawa, Anggaran Capai Rp1.200 Triliun
matamata.com - Kementerian Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan (Kemenko IPK) mengungkapkan bahwa Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara) akan dilibatkan dalam pengembangan jaringan perkeretaapian nasional di luar Pulau Jawa, yang meliputi wilayah Sumatera, Kalimantan, dan Sulawesi.
"(Danantara) akan terlibat," ujar Asisten Deputi Pengembangan Konektivitas Antar Wilayah Kemenko IPK, Djoko Hartoyo, kepada ANTARA di Jakarta, Rabu.
Menurut Djoko, pemerintah telah mencanangkan pengembangan jaringan kereta api di luar Pulau Jawa dan berharap tahapan groundbreaking dapat segera dilakukan.
Sebelumnya, Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan (Menko IPK) Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) menyatakan bahwa pembangunan jaringan perkeretaapian nasional ditargetkan rampung pada 2045. Proyek jangka panjang ini membutuhkan kebutuhan anggaran secara bertahap yang mencapai sekitar Rp1.200 triliun.
Anggaran tersebut dialokasikan untuk pembangunan jalur baru sekaligus reaktivasi jaringan rel sepanjang total 14.000 kilometer di luar Pulau Jawa. Program ini menjadi bagian dari visi Indonesia 2045 yang menuntut perencanaan matang serta dukungan pembiayaan berkelanjutan dari berbagai sumber.
AHY memperkirakan kebutuhan anggaran tahunan berada di kisaran Rp60 triliun hingga Rp65 triliun jika investasi tersebut dibagi dalam kurun waktu sekitar 20 tahun.
"Hitungan ini belumlah final. Kami masih akan menyempurnakannya karena membangun dan mengembangkan infrastruktur sangat tergantung pada kondisi geografis daerah-daerah yang dikembangkan. Tapi paling tidak, itu hitungan awal yang bisa kami sampaikan," ujar AHY.
Kebutuhan pembangunan jaringan rel di luar Jawa tergolong masif. Di Sumatera, jalur kereta eksisting saat ini mencapai sekitar 1.871 kilometer, namun masih memerlukan tambahan sekitar 7.837 kilometer guna memenuhi standar konektivitas berbasis jumlah penduduk.
Sementara itu, wilayah Kalimantan saat ini belum memiliki jaringan rel kereta api, dengan estimasi kebutuhan minimal pembangunan mencapai 2.772 kilometer. Adapun di Sulawesi, jalur kereta yang tersedia baru sekitar 109 kilometer dan membutuhkan tambahan sekitar 3.284 kilometer untuk menggenjot mobilitas regional.
Kendati demikian, AHY menegaskan bahwa megaproyek pembangunan jaringan kereta ini tidak bisa dilakukan secara instan. Pemerintah akan menerapkan tahapan jangka menengah dan panjang, dengan menempatkan program cepat (quick wins) sebagai langkah awal eksekusi di lapangan. (Antara)