Pabrik Alat Berat Listrik Pertama Indonesia di Karawang Beroperasi 2027

Gubernur Jabar Dedi Mulyadi menyambut baik pembangunan pabrik alat berat listrik pertama di Karawang untuk tekan biaya infrastruktur dan serap tenaga kerja vokasi.

Elara | MataMata.com
Kamis, 30 Juli 2026 | 08:15 WIB
Pabrik Alat Berat Listrik Pertama Indonesia di Karawang Beroperasi 2027

Pabrik Alat Berat Listrik Pertama Indonesia di Karawang Beroperasi 2027

matamata.com - Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi menilai kehadiran pabrik manufaktur alat berat bertenaga listrik (electric heavy equipment) pertama di Indonesia di Kabupaten Karawang, dapat menekan biaya pengadaan infrastruktur secara signifikan dibandingkan bergantung pada produk impor.

"Alat berat adalah kebutuhan mendasar dalam pembangunan infrastruktur. Jika diproduksi di dalam negeri, biayanya akan jauh lebih kompetitif dibandingkan dengan produk impor. Kami berharap regulasi dapat mendukung agar industri dapat mendistribusikan langsung kepada konsumen tanpa perantara yang panjang, sehingga harganya lebih terjangkau," ujar Dedi di Bandung, Rabu (29/7).

Pabrik manufaktur alat berat bertenaga listrik tersebut resmi dibangun di Kawasan Industri Karawang Artha Industrial Hill (KAIH), Kabupaten Karawang, dengan kapasitas produksi mencapai 5.000 unit per tahun pada fase pertama. Fasilitas milik PT LiuGong Machinery Manufacturing Indonesia (LMMI) ini ditargetkan mulai beroperasi penuh pada 2027 guna memenuhi kebutuhan ekskavator dan wheel loader elektrik di dalam negeri.

Pembangunan LMMI yang berlokasi di Indonesia Green Smart Industrial Park ini dirancang dalam tiga tahap. Pada tahap awal, pabrik memprioritaskan perakitan unit ekskavator dan wheel loader yang ramah lingkungan.

Guna menyerap tenaga kerja lokal secara maksimal, Dedi menginstruksikan jajaran Pemerintah Provinsi Jabar untuk langsung menggandeng siswa SMA dan SMK tingkat akhir melalui pelatihan vokasi khusus.

"Kami meminta seluruh jajaran Pemprov Jabar untuk segera mengidentifikasi siswa SMA atau SMK kelas 12, guna diberikan program pelatihan vokasi intensif selama enam hingga dua belas bulan. Tujuannya agar saat lulus nanti, mereka telah menjadi tenaga kerja terampil yang siap pakai," tuturnya.

Ia menambahkan, keterlibatan tenaga kerja lokal dalam industri manufaktur hijau ini diproyeksikan memberikan efek berganda (multiplier effect) terhadap kenaikan Indeks Pembangunan Manusia (IPM) serta pertumbuhan ekonomi daerah.

"Peningkatan IPM akan berimplikasi langsung pada kesejahteraan warga yang bermuara pada perputaran roda ekonomi, karena masyarakat memiliki kepastian pendapatan. Namun dengan satu catatan penting, masyarakat juga harus dididik untuk memiliki jiwa kewirausahaan (entrepreneurship), sehingga mereka tidak hanya terserap sebagai karyawan, tetapi juga berkembang menjadi pengusaha," kata Dedi.

Di sisi lain, Pemerintah Provinsi Jabar berkomitmen memberikan jaminan keamanan serta kepastian kelancaran investasi bagi para penanam modal yang beroperasi di wilayah tersebut. (Antara)

×
Zoomed
TERKINI

BRIN mengusulkan penerapan Virtual Power Plant (VPP) di IKN untuk mencapai target Net Zero Emission pada 2045 dan memang...

news | 16:58 WIB

BRIN mengusulkan penerapan Virtual Power Plant (VPP) di IKN untuk mencapai target Net Zero Emission pada 2045 dan memang...

news | 16:56 WIB

Komisi II DPR RI menyoroti mahalnya biaya politik dan kewenangan absolut sebagai akar masalah maraknya kepala daerah yan...

news | 16:06 WIB

Pemerintah menargetkan penataan ulang (refocusing) penerima dan standar menu Program Makan Bergizi Gratis (MBG) rampung ...

news | 14:30 WIB

KPK mengamankan 21 orang dalam OTT yang menjerat Bupati Pemalang, Anom Widiyantoro. Simak perkembangan terbaru pemeriksa...

news | 12:59 WIB