BRIN Usulkan Penerapan Pembangkit Listrik Virtual untuk Dukung NZE IKN 2045
matamata.com - Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengusulkan penerapan Virtual Power Plant (VPP) atau Pembangkit Listrik Virtual sebagai strategi utama untuk mewujudkan Net Zero Emission (NZE) atau Emisi Nol Bersih di Ibu Kota Nusantara (IKN) pada 2045.
Peneliti Pusat Riset Teknologi Kelistrikan BRIN, Abdul Wachid Syamroni, mengungkapkan bahwa target NZE IKN pada 2045 ditetapkan 15 tahun lebih cepat dari target nasional pada 2060. Kondisi ini menuntut transformasi sistem ketenagalistrikan menuju 100 persen pasokan energi bersih.
Abdul menjelaskan cara kerja VPP dengan menganalogikannya seperti seikat sapu lidi. Skema ini mengagregasi dan mengumpulkan berbagai sumber energi bersih skala kecil dan menengah yang tersebar di IKN menjadi satu kesatuan yang terkoordinasi.
"Kami analogikan VPP, skema sistem VPP itu seperti sapu lidi yang melakukan agregasi, mengumpulkan sapu lidi kecil-kecil dan menengah tersebut menjadi satu kesatuan. Sehingga ketika time frame-nya dibutuhkan, itu dikumpulkan, maka efek atau dampaknya itu bisa sangat mengurangi pembangkit-pembangkit konvensional di sisi hulu," ujar Abdul dalam diskusi di Jakarta, Rabu.
Ia memaparkan, sistem kelistrikan di wilayah IKN saat ini sebagian besar masih dipasok oleh pembangkit konvensional berbasis bahan bakar fosil. Melalui penerapan skema VPP yang dikoordinasikan secara digital, bangunan perkantoran dan fasilitas di IKN yang memiliki pembangkit bersih—seperti panel surya atap—dapat saling berbagi kelebihan daya.
"Apabila di suatu klaster tertentu itu berlebih energi pasokan bersihnya, sementara di klaster lain itu energi bersihnya kurang, maka energi itu bisa di-sharing antarklaster di IKN itu sendiri," tambahnya.
Berdasarkan pemodelan dinamis kelompok riset BRIN, penerapan sistem VPP terbukti sangat efektif. Sistem ini diproyeksikan mampu memangkas ketergantungan pada pembangkit energi fosil di sisi hulu secara signifikan, yakni berkisar antara 45 hingga 55 persen.
Selain menekan emisi karbon, VPP dinilai akan melahirkan model bisnis kelistrikan baru. Pengguna akhir (end user) tidak lagi sekadar menerima pasokan pasif dari hulu, melainkan dapat berpartisipasi dalam ekosistem jual-beli listrik antarkomunitas. (Antara)