Wamenlu RI: Infrastruktur AI dan Data Center Picu Ancaman Baru Krisis Air Global

Wamenlu RI Arrmanatha Nasir memperingatkan ancaman baru krisis air global akibat konsumsi miliaran liter air oleh infrastruktur AI dan data center. RI desak reformasi PBB.

Elara | MataMata.com
Kamis, 28 Mei 2026 | 14:31 WIB
Konferensi Internasional Tingkat Tinggi ke-4 terkait Dekade Aksi Internasional

Konferensi Internasional Tingkat Tinggi ke-4 terkait Dekade Aksi Internasional "Air untuk Pembangunan Berkelanjutan" pada 25-28 Mei di Dushanbe, Tajikistan. /ANTARA/HO-Kemlu RI.

Matamata.com - Wakil Menteri Luar Negeri Republik Indonesia, Arrmanatha Nasir, menyoroti munculnya ancaman baru yang signifikan dalam upaya meningkatkan ketahanan air global demi mewujudkan pembangunan berkelanjutan. Ancaman baru tersebut datang dari pesatnya perkembangan teknologi modern.

"Sebuah ancaman baru yang kerap diremehkan kini sedang muncul," ujar Arrmanatha dalam keterangannya yang dirilis Kementerian Luar Negeri (Kemlu) RI, Kamis (28/5/2026).

Pernyataan tersebut disampaikannya saat menghadiri Konferensi Internasional Tingkat Tinggi ke-4 terkait Dekade Aksi Internasional "Air untuk Pembangunan Berkelanjutan" yang berlangsung pada 25–28 Mei di Dushanbe, Tajikistan.

Arrmanatha menjelaskan, ancaman baru yang dimaksud meliputi aktivitas penambangan mineral penting, pembangunan infrastruktur kecerdasan buatan (AI), pusat data (data center), serta industri digital. Sektor-sektor ini kini mengonsumsi miliaran liter air setiap hari, dan kebutuhannya diproyeksikan melonjak dua kali lipat setiap beberapa tahun.

Menurutnya, air adalah sumber daya tak terlihat yang menggerakkan roda ekonomi digital. Jika dunia gagal menangani isu ini secara strategis, kelangkaan air akan bertransformasi menjadi krisis global utama.

Sayangnya, lanjut Arrmanatha, sistem multilateral yang diandalkan masyarakat internasional untuk menghadapi tantangan ini justru sedang mengalami krisis kepercayaan dan efektivitas. Oleh karena itu, ia menilai reformasi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) saat ini harus fokus pada upaya mengatasi ancaman krisis air.

Arrmanatha menegaskan bahwa Indonesia sepenuhnya menyadari beratnya tantangan tersebut. Indonesia berkomitmen untuk terus memimpin dengan memberikan contoh nyata (lead by example), baik di tingkat regional maupun global.

Sejak menyelenggarakan Forum Air Dunia (World Water Forum/WWF) ke-10 di Bali pada 2024 lalu, Indonesia telah mendirikan Pusat Keunggulan untuk Ketahanan Air dan Iklim (Center of Excellence for Water and Climate Resilience).

Dalam dua tahun terakhir, fasilitas ini telah memberikan pelatihan peningkatan kapasitas terkait ketahanan air dan iklim kepada lebih dari 2.000 individu dari 40 negara di kawasan Asia Pasifik. Selain itu, Indonesia juga sukses memelopori Resolusi Majelis Umum PBB tentang Hari Danau Sedunia demi memperjuangkan perlindungan ekosistem danau secara global.

Di sektor domestik, Indonesia menempatkan infrastruktur air sebagai pusat pembiayaan nasional strategis. Salah satunya lewat optimalisasi lembaga dana kekayaan negara (sovereign wealth fund), Danantara, untuk membuka efek pengganda (multiplier effect) di berbagai sektor ekonomi.

Baca Juga: Angkat Kisah Romantis! ILIR7 Yakin Lagu 'Seandainya Tercipta Untukku' bakal Viral

Dalam konferensi di Tajikistan tersebut, Wamenlu Arrmanatha menyampaikan empat seruan utama Indonesia untuk memajukan komitmen penanganan isu air global:

  1. Memperkuat Kerja Sama Regional: Mendorong kolaborasi lintas negara di bidang pengelolaan sumber daya air.
  2. Meningkatkan Investasi Strategis: Menjadikan pendanaan sektor air sebagai landasan utama pembangunan.
  3. Menyiapkan Tata Kelola Masa Depan: Merumuskan regulasi air yang adaptif di era kecerdasan buatan (AI) dan ekonomi digital.
  4. Mendorong Reformasi PBB: Mendesak penguatan wewenang, sumber daya, dan kesetaraan PBB agar mampu bertindak nyata mengatasi masalah air.

"Dunia sebenarnya memiliki pengetahuan, modal, dan teknologi. Yang kurang saat ini hanyalah kemauan politik kolektif, serta sistem multilateral yang efektif dan cukup berani untuk mempercepat tindakan nyata," pungkas Arrmanatha. (Antara)

×
Zoomed
Berita Terkait TERKINI

Film 'Semua Akan Baik-Baik Saja' garapan sutradara Baim Wong sukses menembus 1 juta penonton dalam 14 hari. Simak sinops...

news | 14:33 WIB

Petani tembakau (APTI) dan cengkeh (APCI) mendesak Kemenkes mengkaji ulang aturan penyeragaman kemasan rokok dalam RPMK ...

news | 10:30 WIB

Presiden AS Donald Trump tegas menolak Rusia atau China menyimpan pasokan uranium Iran. Ketegangan nuklir memanas pasca-...

news | 09:15 WIB

Ketua Fraksi Golkar DPR RI Muhammad Sarmuji memuji peningkatan signifikan pelayanan haji 2026. Fasilitas Armuzna lancar ...

news | 08:30 WIB

Wamendes PDT Ahmad Riza Patria buka suara terkait kritik tajam pemangkasan Dana Desa 2026 sebesar Rp34 triliun demi mend...

news | 07:00 WIB

Indonesia lewat Wamen Mendes PDT Ahmad Riza Patria tegaskan komitmen belajar manajemen pengentasan kemiskinan dari China...

news | 06:15 WIB

Menbud Fadli Zon menegaskan momentum Iduladha 1447 H harus memperkuat solidaritas sosial. Kementerian Kebudayaan salurka...

news | 14:02 WIB

Badan Gizi Nasional (BGN) bersama Polri mengusut tuntas sindikat penipuan jual-beli titik SPPG Makan Bergizi Gratis yang...

news | 13:59 WIB

Presiden Prabowo Subianto menyumbang sapi kurban jumbo seberat 1,2 ton untuk warga terdampak banjir di Dayeuhkolot, Kabu...

news | 13:55 WIB

Menteri Agama Nasaruddin Umar memastikan sistem penyembelihan hewan kurban Idul Adha 2026 di Masjid Istiqlal ramah lingk...

news | 11:00 WIB