Menelusuri Jejak Akulturasi Budaya Tionghoa di Tangerang: Dari Teluk Naga hingga Benteng Heritage

Sungai Cisadane menyambut setiap langkah yang menapak di kawasan Kali Pasir, Tangerang. Aliran air ini menyimpan sejarah panjang kedatangan etnis Tionghoa ke tanah Banten pada abad ke-15.

Elara | MataMata.com
Selasa, 24 Juni 2025 | 17:24 WIB
Menelusuri Jejak Akulturasi Budaya Tionghoa di Tangerang: Dari Teluk Naga hingga Benteng Heritage. (Antara)

Menelusuri Jejak Akulturasi Budaya Tionghoa di Tangerang: Dari Teluk Naga hingga Benteng Heritage. (Antara)

Matamata.com - Sungai Cisadane menyambut setiap langkah yang menapak di kawasan Kali Pasir, Tangerang. Aliran air ini menyimpan sejarah panjang kedatangan etnis Tionghoa ke tanah Banten pada abad ke-15.

Rombongan dari Tiongkok yang dipimpin oleh Chen Chi Lung awalnya datang untuk misi diplomatik dan perdagangan. Namun, kapal mereka terdampar di muara Cisadane atau yang kini dikenal dengan Teluk Naga. Perjalanan yang tak terduga itu menjadi awal mula terjadinya akulturasi budaya antara Tionghoa dan masyarakat lokal.

Dengan izin dari Kerajaan Padjajaran, yang kala itu berkuasa di wilayah tersebut, rombongan Chen Chi Lung menetap di sekitar Teluk Naga.

Seiring waktu, hubungan antara pejabat Padjajaran dan perempuan dari rombongan Tiongkok melahirkan keturunan campuran, yang kemudian banyak tinggal di sekitar kawasan Teluk Naga dan benteng peninggalan Belanda, termasuk Benteng Makassar.

Dari sinilah muncul istilah "Cina Benteng", merujuk pada warga keturunan Tionghoa yang menetap di Tangerang.

Bersama Perkumpulan Ahli Arkeologi Indonesia (IAAI), ANTARA menelusuri warisan budaya Tionghoa di Tangerang melalui sejumlah situs bersejarah:

1. Klenteng Boen Tek Bio
Terletak tak jauh dari Sungai Cisadane, klenteng yang dibangun pada abad ke-17 ini menjadi salah satu tempat ibadah tertua di Tangerang. Didirikan oleh pedagang Tionghoa, Boen Tek Bio menjadi pusat spiritual sekaligus sosial bagi komunitas Tionghoa, khususnya saat perayaan besar seperti Imlek dan Cap Go Meh.

2. Roemah Boeroeng Tangga Ronggeng
Berlokasi di Jalan Cilangkap No. 44, bangunan bergaya Tiongkok abad ke-18 ini dulunya rumah modiste kebaya encim milik keluarga Pee tau encim Pon. Di tahun 1973, rumah ini sempat dijadikan sarang burung walet, lalu direstorasi pada 2013–2014 oleh budayawan Udaya Halim agar kembali ke bentuk aslinya.

Kini, rumah ini dikenal sebagai Roemah Boeroeng Tangga Ronggeng, sebuah museum kuliner dan ruang budaya yang kerap menggelar acara perayaan Tionghoa seperti Sincia, Cap Go Meh, hingga Peh Cun. Nama "Tangga Ronggeng" berasal dari sejarah adanya tangga untuk penari ronggeng menuju jamban di tepi Sungai Cisadane.

3. Museum Benteng Heritage
Bangunan abad ke-17 yang terletak di kawasan Pasar Lama ini diselamatkan oleh Udaya Halim pada 2009 dan diresmikan sebagai museum pada 11 November 2011. Interiornya masih asli dengan lantai terakota dan plafon kayu. Di dalamnya terdapat berbagai artefak budaya Tionghoa, dari furnitur, porselen, patung dewa, fengshui, kebaya encim, hingga timbangan opium.

Baca Juga: Danantara Bidik Kerja Sama Media dan Hiburan dengan Korea Selatan, Angkat Budaya Indonesia ke Kancah Global

Salah satu daya tarik museum ini adalah ukiran batu besar berwarna asli yang tetap terjaga, menambah kekayaan visual dan sejarah dari bangunan ini.

Melalui ketiga situs ini, sejarah akulturasi dan warisan budaya Tionghoa di Tangerang terus hidup dan menjadi bagian penting dari identitas kota, sekaligus jendela bagi generasi muda untuk memahami akar sejarah yang beragam. (Antara)

×
Zoomed
Berita Terkait TERKINI

Menteri Kebudayaan Fadli Zon melantik 11 pejabat baru dan menginstruksikan pemangkasan prosedur birokrasi demi efisiensi...

news | 15:30 WIB

KPK menyebut pengusaha Muhammad Suryo mangkir dari panggilan saksi terkait kasus korupsi Bea Cukai. Simak kronologi dan ...

news | 14:15 WIB

Kemkomdigi melaporkan 100 persen layanan telekomunikasi di Sulawesi Utara pulih dalam 24 jam pascagempa M 7,6 di Bitung....

news | 13:15 WIB

DK PBB segera voting resolusi pengamanan Selat Hormuz 3 April 2026. Resolusi mencakup izin penggunaan kekuatan militer u...

news | 12:15 WIB

Pemerintah Indonesia berkoordinasi dengan PBB untuk mempercepat pemulangan jenazah tiga prajurit TNI yang gugur akibat s...

news | 11:15 WIB

Dirut Pupuk Indonesia menegaskan prioritas utama adalah petani lokal di tengah lonjakan harga urea global akibat konflik...

news | 10:15 WIB

KPK agendakan pemeriksaan maraton terhadap sejumlah biro haji (PIHK) pekan depan terkait kasus korupsi kuota haji yang m...

news | 09:30 WIB

Dirut Bulog Ahmad Rizal Ramdhani resmi menarik stok beras darurat di bandara dan pelabuhan Sumatera seiring pulihnya jal...

news | 08:30 WIB

GCC mendesak DK PBB segera amankan Selat Hormuz menyusul blokade Iran. Penutupan jalur maritim vital ini picu kenaikan h...

news | 07:00 WIB

KPK umumkan tingkat kepatuhan LHKPN 2025 mencapai 96,24%. Sektor yudikatif hampir 100%, sementara legislatif masih di an...

news | 06:15 WIB