Life

6 Fakta Saras Dewi Sang Pelantun Lagu Lembayung Bali: Jadi Dosen Filsafat!

Yuk kepoin Saras Dewi, penyanyi sekaligus dosen filsafat yang diagung-agungkan sebagai wanita inspiratif dan membangakan Tanah Air ini!

Yohanes Endra

Fakta Saras Dewi (Instagram/@coki_bollemeyer)
Fakta Saras Dewi (Instagram/@coki_bollemeyer)

Matamata.com - Masih ingat dengan Saras Dewi? Bagi yang masih asing dengan namanya, Saras Dewi merupakan seorang penyanyi asal Bali yang cukup terkenal karena karyanya yang berjudul ‘Lembayung Bali’. Selain menekuni bidang tarik suara, wanita yang memiliki nama asli L.G. Saraswati Putri ini juga menekuni keilmuan filsafat, loh. Tidak hanya sekadar mempelajarinya, ia juga seorang dosen filsafat, loh! Keren, bukan?

Nah, kalau kalian penasaran lebih jauh tentang penyanyi multitaletna dan berprestasi ini, yuk kepoin fakta Saras Dewi berikut ini!

1 Karier Sebagai Penyanyi

Fakta Saras Dewi (Instagram/@coki_bollemeyer)
Fakta Saras Dewi (Instagram/@coki_bollemeyer)

Saras Dewi telah terjun di dunia musik selama hampir 20 tahun lamanya. Di bawah naungan Bintang Record, wanita yang akrab dipanggil Yayas ini memulai kariernya dengan meluncurkan album pertamanya dengan judul ‘Chrysan’ dengan single ‘Lembayung Bali’. Berbeda dengan penyanyi-penyanyi lain yang selalu tampil glamor dengan riasan yang ciamik, Saras Dewi justru naik ke atas panggung sesuai dengan apa adanya dirinya.

Album tersebut sukses besar hingga terjual 30ribu kopi dan bahkan masuk nominasi Penghargaan AMI (anugerah Musik Indonesia) dalam kategori Best Ballad dan Best Single. Sayangnya, setelah tiga tahun berada di puncak karier, Saras memilih mundur karena tidak terlalu cocok dengan konsep pencitraan seorang penyanyi. Selain itu, jadwal manggung yang terlalu padat berbentrokan dengan tugas kuliah S1 yang sedang dijalaninya saat itu.

2. Pendidikan

Fakta Saras Dewi (Instagram/@coki_bollemeyer)
Fakta Saras Dewi (Instagram/@coki_bollemeyer)

Saar meniti karier sebagai penyanyi, wanita bernama asli L.G. Saraswati Putri itu juga sedang duduk di bangku kuliah di jurusan Filsafat Universitas Indonesia. Seusai mendapatkan gelar strata 1, Saras yang mendapatkan beasiswa dengan ikatan dokter pun melanjutkan pendidikannya ke jenjang pasca sarjana di jurusan. Tidak hanya sampai S2, Saras bahkan menyelesaikan program doktorat di bidang keilmuan Filsafat Lingkungan Hidup di usia yang masih baru menginjak 29 tahun di tahun 2013.

3. Karier Sebagai Dosen

Fakta Saras Dewi (Instagram/@coki_bollemeyer)
Fakta Saras Dewi (Instagram/@coki_bollemeyer)

Memiliki ikatan dinas dengan UI, Saras yang memang suka mengajar pun merintis kariernya sebagai dosen. Pada mulanya, ia menjadi asisten dosen selama dua semester. Di tahun 2006, Saras pun mulai memegang kelasnya sendiri di UI sebagai dosen luar biasa sebelum akhirnya menjadi dosen Pegawai Negeri Sipil di Fakultas Ilmu Budaya UI di tahun 2009. Dengan prestasi cemerlang yang dimilikinya, Saras pun dipercaya untuk menjabat sebagai Ketua Program Studi Ilmu Filsafat UI dari tahun 2010 hingga 2017 sembari menyelesaikan program doktoratnya.

Menjadi dosen di usia yang masih terbilang muda, jarak yang terpaut antara dirinya dan mahasiswa pun hanya sedikit sehingga ia kerap dipanggil “Mbak Yayas” ketika mengajar. Bahkan, ada kalanya Saras harus mengajar bapak atau ibu yang usianya lebih tua darinya di program magister atau doktorat. Kini, Saras diketahui memegang peran sebagai dosen Filsafat Timur, Etika Lingkungan, Filsafat dan HAM, Fenomenologi, dan Filsafat Sastra di Universitas Indonesia.

4. Penulis dan Aktivis

Fakta Saras Dewi (Instagram/@coki_bollemeyer)
Fakta Saras Dewi (Instagram/@coki_bollemeyer)

Selain menjadi akademisi, Saras Dewi juga aktif sebagai penulis dan juga aktivis berkat jiwa sosialnya yang tinggi. Bahkan di tahun 2014 lalu, ia bersama kawan-kawan sesama aktivis bernyanyi bersama dan menyuarakan suara yang cukup keras untuk gerakan Bali Tolak Reklamasi. Selain itu, tulisan-tulisan kritisnya juga sering dimuat oleh berbagai media Tanah Air, seperti Jawa Pos, Media Indonesia, Bali Pos, dan lain sebagainya. Ia bahkan telah menerbitkan 4 buku sejak tahun 2004 hingga 2015.

Buku pertama yang diterbitkan di tahun 2004 merupakan kumpulan puisi dengan judul ‘Jiwa Putih’. Berbeda dari sebelumnya, buku kedua Saras merupakan karya nonfiksi tentang Hak Asasi Manusia (HAM) yang diterbitkan oleh Uni Press yang bekerja sama dengan Uni Eropa di tahun 2006. Buku ketiganya diterbitkan di tahun 2010 dengan judul ‘Cinta bukan Coklat’, sementara buku terakhirnya terbit tahun 2015 dengan judul ‘Ekofenomenologi’.

5. Keberagaman Keluarga

Fakta Saras Dewi (Instagram/@coki_bollemeyer)
Fakta Saras Dewi (Instagram/@coki_bollemeyer)

Saras Dewi yang merupakan anak sulung dari 10 bersaudara lahir dan dibesarkan di Bali. Namun, faktanya Saras Dewi berasal dari keluarga yang sebenarnya cukup beragam dalam hal budaya dan agama. Ibunya berasal dari Semarang dan beragam Islam. Dari beliau, Saras mengenal banyak hal Islam dan juga ajaran sufisme.

Di lain sisi, kakek dan neneknya yang asli Bali mengajarkannya berbagai tradisi dan kepercayaan Bali dan bahkan memintanya untuk menyanyi di upacara-upacara keagamaan. Dari mereka juga, Saras mulai mengenal buku-buku filsafat timur. Lahir di tengah keberagaman tersebut, Saras dibebaskan untuk menentukan pilihan hidupnya sendiri selama menjadi orang baik.

6. Menikah 

Fakta Saras Dewi (Instagram/@coki_bollemeyer)
Fakta Saras Dewi (Instagram/@coki_bollemeyer)

11 tahun lalu, Saras Dewi resmi dipersunting oleh Christopher Bollemeyer yang lebih dikenal dengan nama Coky Netral. Sama-sama bergelut di bidang musik, pertemuan Saras dengan gitaris band Netral ini karena mereka berada di bawah naungan perusahaan rekaman yang sama. Keduanya pun akhirnya berpacaran selama delapan tahun lamanya sebelum memutuskan untuk menikah hingga saat ini.

Itu dia fakta Saras Dewi yang belum banyak diketahui oleh banyak orang. Semoga makin sukses dalam berkarier dan makin menginspirasi banyak orang!

Kontributor: Wahyu Panca Handayani

Berita Terkini

Live Report