Gempa Jepang Kumamoto: Kedutaan China Aktifkan Darurat, Pabrik dan Layanan Publik Lumpuh

Kedutaan Besar China di Jepang aktifkan respons darurat pascagempa M 7,1 di Kumamoto. Simak pembaruan korban, evakuasi, dan dampak industri di sini.

Elara | MataMata.com
Kamis, 30 Juli 2026 | 11:47 WIB
Gempa Jepang Kumamoto: Kedutaan China Aktifkan Darurat, Pabrik dan Layanan Publik Lumpuh

Gempa Jepang Kumamoto: Kedutaan China Aktifkan Darurat, Pabrik dan Layanan Publik Lumpuh

matamata.com - Kedutaan Besar dan Konsulat China di Jepang langsung mengaktifkan mekanisme respons darurat menyusul gempa bumi bermagnitudo 7,1 yang mengguncang Prefektur Kumamoto, Pulau Kyushu, barat daya Jepang pada Selasa (28/7).

Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China, Mao Ning, mengatakan pihaknya segera mengeluarkan peringatan konsuler agar warga negara China di sana meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi tsunami dan gempa susulan.

"Kedutaan dan konsulat China di Jepang segera mengaktifkan respons darurat dan mengeluarkan peringatan konsuler yang menyarankan warga negara China untuk bersiap menghadapi kemungkinan tsunami dan gempa susulan," ujar Mao Ning dalam konferensi pers di Beijing, Rabu (29/7).

Mao Ning menegaskan, pemerintah China menyampaikan duka cita mendalam atas korban jiwa dan siap memberikan bantuan penuh kepada warganya yang terdampak bencana tersebut.

"Kami memantau dengan saksama dampak gempa bumi di Kumamoto. Kami berduka atas korban jiwa dan menyampaikan simpati kepada keluarga yang ditinggalkan serta para korban luka," tambahnya.

Berdasarkan data resmi pemerintah Jepang yang disampaikan Perdana Menteri Sanae Takaichi pada Rabu (29/7), korban meninggal dunia akibat gempa ini mencapai 13 orang. Selain itu, otoritas setempat mencatat 7 orang mengalami luka serius, 29 orang luka ringan, dan puluhan lainnya masih terjebak di bawah reruntuhan.

Tim penyelamat berkejaran dengan waktu untuk mengevakuasi korban yang diduga masih terjebak di bawah reruntuhan pusat perbelanjaan AEON di Kota Kashima serta pabrik Nippon Paper Industries di Kota Yatsushiro. Rekaman udara lembaga penyiaran NHK memperlihatkan lantai dua pusat perbelanjaan tersebut ambruk, menyisakan kerangka besi dan lubang menganga di bagian atap, sementara sekitar 200 orang berhasil menyelamatkan diri ke area parkir.

Pemerintah Jepang telah membuka sekitar 450 pusat evakuasi yang menampung sekira 7.700 pengungsi di tengah tantangan cuaca panas yang diprakirakan masih akan berlangsung. Guna mempercepat penanganan, Pasukan Bela Diri Jepang (SDF) mengerahkan 4.600 personel didukung oleh 2.000 aparat kepolisian.

Gempa kuat ini juga memaksa sejumlah industri strategis di Jepang menghentikan operasional sementara. Sejumlah perusahaan teknologi dan manufaktur besar, seperti Sony Semiconductor Manufacturing, Renesas Electronics, Tokyo Electron, Mitsubishi Electric, Honda Motor, Suntory Holdings, dan Mitsubishi Chemical, memilih menutup pabrik mereka guna memastikan keselamatan kerja dan memeriksa kerusakan.

Layanan logistik dan publik turut terdampak parah. Japan Post menghentikan layanan di seluruh kantor pos di prefektur terdampak, sementara Yamato Transport dan Sagawa Express menangguhkan sementara layanan pengiriman paket di sejumlah wilayah. Pelaku industri kini mengkhawatirkan potensi gangguan rantai pasok global jika penghentian operasional pabrik-pabrik tersebut berlangsung lama. (Antara)

×
Zoomed
TERKINI

Presiden Prabowo Subianto bertolak ke Jawa Tengah untuk meresmikan pemugaran Stasiun Semarang Tawang, menjajal KA Nusant...

news | 11:55 WIB

Komisi II DPR RI bersama Mendagri Tito Karnavian dan kepala daerah membahas remunerasi, dana bagi hasil, serta peningkat...

news | 11:51 WIB

Kedutaan Besar China di Jepang aktifkan respons darurat pascagempa M 7,1 di Kumamoto. Simak pembaruan korban, evakuasi, ...

news | 11:47 WIB

Presiden Prabowo resmi menaikkan tukin prajurit TNI dan pegawai Kemhan setelah 8 tahun. Simak rincian besaran tunjangan ...

news | 09:15 WIB

Gubernur Jabar Dedi Mulyadi menyambut baik pembangunan pabrik alat berat listrik pertama di Karawang untuk tekan biaya i...

news | 08:15 WIB