Kementan Salurkan 3,6 Juta Bibit Kakao untuk Lahan 3.000 Hektare di Nabire
matamata.com - Kementerian Pertanian (Kementan) menyalurkan bantuan 3,6 juta bibit untuk mendukung pengembangan perkebunan kakao seluas 3.000 hektare di Kabupaten Nabire, Papua Tengah. Langkah ini merupakan bagian dari upaya pemerintah dalam meningkatkan produksi kakao nasional sekaligus mendongkrak kesejahteraan petani lokal.
Direktur Jenderal Perkebunan Kementan, Ali Jamil Harahap, menjelaskan bahwa pengembangan kakao di Nabire mencakup dua program utama, yaitu peremajaan lahan seluas 1.000 hektare dan perluasan areal tanam (ekstensifikasi) seluas 2.000 hektare.
"Untuk ekstensifikasi lahan kakao tersebut, kami harus menyiapkan sekitar 3 juta bibit. Kami juga menambahkan sekitar 20 persen untuk mengantisipasi kebutuhan penyulaman di lapangan, sehingga total bibit yang disiapkan mencapai 3,6 juta bibit," kata Ali Jamil di Nabire, Selasa (7/7/2026).
Sebagai langkah awal, Kementan memprioritaskan pembangunan pusat pembibitan (nursery) agar ketersediaan bibit dapat dipastikan tepat waktu sebelum musim tanam tiba.
Saat ini, target pengisian polibeg (polybag) untuk jutaan bibit tersebut dipatok rampung dalam waktu dua pekan. Hal ini dilakukan agar proses penyemaian dapat langsung berjalan begitu benih tiba di lokasi.
"Kami minta pengisian polibeg selesai dalam dua minggu. Setelah benih datang, harus langsung disemai dan dipindahkan ke polibeg agar tidak menghambat target penanaman," tegasnya.
Ali menambahkan, area yang dibutuhkan untuk menampung 3,6 juta bibit kakao ini mencapai delapan hektare, yang berlokasi di wilayah Samabusa, Distrik Teluk Kimi, Nabire. Kementan menginstruksikan agar pusat pembibitan ini ditempatkan sedekat mungkin dengan sentra perkebunan petani demi efisiensi distribusi.
"Sesuai arahan Menteri Pertanian, benih harus didekatkan dengan petani. Targetnya agar saat didistribusikan nanti, bibit tidak rusak akibat pengangkutan jarak jauh," imbuhnya.
Program masif ini juga menjadi bagian dari strategi hilirisasi sektor perkebunan yang dicanangkan pemerintah. Peningkatan produksi kakao di Nabire diharapkan menjadi fondasi kuat bagi pengembangan industri pengolahan hilir, mulai dari bubuk kakao, cokelat batangan, hingga produk turunan bernilai jual tinggi lainnya.
"Jika bahan bakunya tersedia secara konsisten, maka hilirisasi bisa berjalan optimal. Produk kakao Papua tidak lagi dijual dalam bentuk bahan mentah, melainkan produk olahan yang memberi nilai tambah lebih besar bagi masyarakat," pungkas Ali.
Selain dampak ekonomi jangka panjang, proyek pembibitan ini juga melibatkan masyarakat sekitar secara langsung untuk membuka lapangan kerja baru dan menambah pendapatan warga setempat. (Antara)