Mentan Amran Terapkan Metode PM AAS untuk Kejar Swasembada Pangan di Merauke
matamata.com - Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman mempercepat transformasi pertanian di Kabupaten Merauke, Papua Selatan, melalui penerapan Pertanian Modern Advanced Agriculture System (PM AAS). Langkah strategis ini diambil guna mewujudkan swasembada pangan yang berkelanjutan di timur Indonesia.
Mentan menjelaskan bahwa PM AAS merupakan kombinasi dari metode pertanian di Amerika, Indonesia, dan China yang telah diteliti secara langsung. Lewat metode ini, produktivitas lahan diyakini mampu melonjak hingga dua kali lipat.
"Produksinya bisa naik dua kali lipat. PM AAS itu kombinasi antara metode Amerika, Indonesia, dan China. Kami sudah teliti langsung, produksinya bisa mencapai 10 hingga 12 ton per hektare," ujar Amran saat meninjau lokasi pertanian di Merauke, Senin (6/7/2026).
Sebelumnya, Mentan juga melakukan tanam padi bersama petani di Kampung Waninggap Kai, Distrik Semangga, Kabupaten Merauke, pada Sabtu (4/7/2026).
Metode budidaya modern yang memadukan mekanisasi, penggunaan varietas unggul spesifik lokasi, pola tanam baru, dan pendampingan intensif ini diharapkan dapat mendongkrak penghasilan serta kesejahteraan petani setempat.
Penerapan PM AAS di Merauke berjalan beriringan dengan program cetak sawah rakyat dan optimasi lahan. Strategi ini menjadi bagian dari fokus besar pemerintah dalam memperkuat ketahanan pangan nasional, khususnya di wilayah Papua.
Sementara itu, Kepala Badan Perakitan dan Modernisasi Pertanian (BRMP) Kementerian Pertanian, Fadjry Djufry, menjelaskan bahwa PM AAS adalah inovasi yang dikembangkan Kementan selama dua tahun terakhir.
Konsep ini diadaptasi dari praktik pertanian modern global yang disesuaikan dengan kondisi agroekosistem Indonesia, termasuk lahan rawa pasang surut di Merauke.
Menurut Fadjry, perbedaan utama PM AAS dengan metode konvensional terletak pada pengaturan jarak tanam yang lebih rapat menggunakan sistem tabela (tanam benih langsung).
Jika metode biasa (tanam pindah) hanya menghasilkan populasi 250 ribu hingga 600 ribu tanaman per hektare, PM AAS mampu meningkatkan populasi hingga 800 ribu sampai 1 juta tanaman per hektare.
"Bisa dibayangkan, kemungkinan besar produksinya double karena populasinya juga double. Harapan kita, jika kebutuhan pupuk dan haranya terpenuhi, produksinya pasti berlipat," jelas Fadjry.
Penerapan PM AAS di Merauke juga disesuaikan secara spesifik dengan karakteristik lahan rawa pasang surut tipe C dan kerawanan terhadap hama endemik seperti tungro. Kementan merekomendasikan penggunaan varietas khusus, salah satunya Inpari 37, yang lebih toleran terhadap kadar asin dan hama tungro.
Dari sisi teknologi penanaman, petani dapat memanfaatkan drone untuk menyebar benih secara cepat. Sebagai alternatif yang ekonomis, petani juga bisa menggunakan alat sederhana bernama drum seeder.
"Di beberapa tempat kita optimalkan penggunaan drone. Namun bagi wilayah baru, drum seeder bisa menjadi solusi kelompok tani. Dengan drum seeder, biaya tanam menjadi jauh lebih murah, yakni sekitar Rp600 ribu per hektare untuk wilayah Papua, dibanding metode manual," pungkas Fadjry.
Saat ini, Kementan menargetkan perluasan implementasi PM AAS hingga mencapai satu juta hektare di seluruh Indonesia pada tahun ini. (Antara)