Iran Diduga Serang Kapal Kargo Singapura di Selat Hormuz

Iran diduga menembaki kapal kargo berbendera Singapura di Selat Hormuz tanpa peringatan. Insiden ini mengancam memorandum damai Iran-AS yang baru ditandatangani.

Elara | MataMata.com
Jum'at, 26 Juni 2026 | 09:11 WIB
Situasi Selat Hormuz di dekat Khasab, kota kecil di Oman utara, Sabtu (20/6/2026). ANTARA/Xinhua/Wen Xinnian/aa.

Situasi Selat Hormuz di dekat Khasab, kota kecil di Oman utara, Sabtu (20/6/2026). ANTARA/Xinhua/Wen Xinnian/aa.

Matamata.com - Ketegangan di Selat Hormuz kembali memanas. Korps Garda Revolusi Islam Iran diduga menyerang sebuah kapal kargo berbendera Singapura tanpa peringatan di jalur laut strategis tersebut.

Laporan The Wall Street Journal (WSJ) pada Kamis (25/6/2026), yang mengutip sejumlah pejabat dan pelaut Amerika Serikat (AS), menyebutkan bahwa Angkatan Laut Iran tidak melepaskan peringatan radio apa pun atau memerintahkan kapal untuk berbalik arah sebelum melepaskan tembakan. Meski tidak ada korban luka dalam insiden tersebut, pusat kendali kapal kargo itu dilaporkan mengalami kerusakan serius.

Dugaan serangan ini terjadi di tengah upaya internasional mengamankan jalur tersebut. Pada Selasa (23/6/2026), Sekretaris Jenderal Organisasi Maritim Internasional (IMO) Arsenio Dominguez mengumumkan dimulainya evakuasi ribuan pelaut dari kapal-kapal yang terdampar di Teluk Persia. Namun, Dominguez mengonfirmasi bahwa kapal Singapura yang rusak tersebut tidak sedang transit dalam rangka operasi evakuasi IMO.

Selat Hormuz tetap menjadi urat nadi energi global yang sibuk meski situasi tidak kondusif. Menteri Energi AS Chris Wright mengungkapkan pada Rabu (24/6/2026) bahwa lebih dari 70 kapal yang mengangkut sekitar 20 juta barel minyak tetap bergerak melintasi selat tersebut dalam 24 jam terakhir.

Insiden ini dinilai ironis karena terjadi hanya seminggu setelah upaya diplomasi de-eskalasi. Pada malam menjelang 18 Juni 2026, Iran dan AS baru saja menandatangani memorandum untuk mengakhiri perang yang telah berlangsung sejak 28 Februari lalu.

Dalam dokumen tersebut, AS berkomitmen mencabut blokade laut di pelabuhan Iran, sementara Iran berjanji memulihkan keamanan pelayaran di Selat Hormuz. Selain itu, Teheran berkomitmen tidak mengembangkan senjata nuklir, dengan klausul bahwa program nuklir akan diselesaikan lewat perjanjian terpisah.

Kedua belah pihak dijadwalkan mengadakan negosiasi lanjutan dalam waktu 60 hari. Bagi Teheran, pencabutan sanksi ekonomi tetap menjadi prioritas utama, namun dugaan serangan ini diprediksi akan mempersulit posisi tawar mereka di meja perundingan. (Antara)

×
Zoomed
Berita Terkait TERKINI

Menhut Raja Juli Antoni bentuk Satgas khusus demi targetkan 13 taman nasional mandiri finansial pada 2030 melalui skema ...

news | 09:15 WIB

Menteri ESDM Bahlil Lahadalia dan Dirut PLN Darmawan Prasodjo memastikan kendala pasokan batu bara kalori menengah untuk...

news | 06:00 WIB

Pakar nuklir AS Dr. Kelle Barfield sebut Indonesia tak mulai dari nol dalam pengembangan energi nuklir sipil. AS siap bo...

news | 18:31 WIB

Menko Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) menargetkan penerbangan Indonesia mulai m...

news | 18:27 WIB

Mendes PDT Yandri Susanto bakal memutakhirkan program Jaga Desa ke sistem digital. Langkah ini diambil untuk mendongkrak...

news | 18:24 WIB

Istri mantan Menag Yaqut Cholil Qoumas, Eny Retno Yaqut, mengapresiasi langkah KPK yang mengabulkan pembantaran penahana...

news | 12:54 WIB

Menteri ESDM Bahlil Lahadalia dan DPR bergerak cepat mencari solusi kenaikan harga gas industri non-HGBT guna menyelamat...

news | 12:50 WIB

Tiga mantan pejabat Bea Cukai, termasuk eks Direktur P2 Rizal, segera disidang pada 3 Juli 2026 terkait kasus suap impor...

news | 11:30 WIB

Menaker Yassierli menegaskan hubungan industrial antara pekerja dan perusahaan harus naik kelas ke tahap transformatif d...

news | 09:15 WIB

Menhut Raja Juli Antoni menegaskan Indonesia siap memasuki fase baru pasar karbon global melalui peluncuran SRUK dan pen...

news | 08:15 WIB