Lebih Efisien dari Tebu? BRIN Ciptakan Mesin Gula Semut Sorgum Khusus UMKM

BRIN kembangkan rangkaian teknologi mesin pengolahan gula semut dari nira sorgum yang lebih efisien dan higienis untuk skala UMKM dan petani lokal.

Elara | MataMata.com
Senin, 13 April 2026 | 12:30 WIB
Petani memanfaatkan teknologi peralatan pengolahan gula semut berbasis nira sorgum manis sebagai alternatif sumber gula yang dikembangkan oleh Pusat Riset Teknologi Manufaktur Peralatan, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN). ANTARA/HO-BRIN

Petani memanfaatkan teknologi peralatan pengolahan gula semut berbasis nira sorgum manis sebagai alternatif sumber gula yang dikembangkan oleh Pusat Riset Teknologi Manufaktur Peralatan, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN). ANTARA/HO-BRIN

Matamata.com - Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) resmi mengembangkan teknologi peralatan pengolahan gula semut berbasis nira sorgum manis. Inovasi ini hadir sebagai upaya menyediakan sumber gula alternatif sekaligus meningkatkan nilai tambah komoditas pangan lokal di Indonesia.

Peneliti Ahli Madya Pusat Riset Teknologi Manufaktur Peralatan BRIN, Sandi Darniadi, menjelaskan bahwa sorgum dipilih karena fleksibilitasnya. Meski selama ini belum dimanfaatkan optimal, sorgum berpotensi besar sebagai bahan baku pangan hingga energi.

"Sorgum itu satu keluarga dengan tebu, tetapi pemanfaatannya lebih fleksibel. Selain untuk gula, bisa juga untuk bioetanol hingga pakan. Semua bagian tanaman bisa dimanfaatkan," ujar Sandi dalam keterangan tertulisnya di Jakarta, Senin (13/4).

Sandi mengakui kandungan gula sorgum (11–15 persen) memang lebih rendah dibanding tebu. Namun, tanaman ini tetap sangat menjanjikan untuk skala petani dan usaha kecil.

Proses Produksi yang Terintegrasi Pengolahan gula semut ini dilakukan melalui rangkaian mesin terintegrasi, mulai dari pemerasan batang hingga pengemasan. Tahap pertama dimulai dengan mesin roller press untuk mengekstraksi nira. Dari 100 kg batang sorgum, rata-rata dihasilkan 20 liter nira, tergantung kondisi lingkungan tanaman.

Selanjutnya, nira diolah melalui dua metode:

Vacuum Evaporator: Menggunakan sistem tertutup dengan suhu rendah (60–70°C) untuk menghasilkan sirup atau gula cair sorgum.
Open Pan Cooker: Digunakan untuk memproduksi gula semut dengan suhu 90–100°C guna mencapai kadar air 5–6 persen hingga terbentuk kristal.

"Untuk menghasilkan gula semut dari 15 liter nira, dibutuhkan waktu sekitar 3–5 jam," tambah Sandi. Setelah dimasak, gula dikeringkan dalam oven dehydrator dan dihaluskan menggunakan mesin crusher hingga menjadi butiran siap kemas.

Salah satu nilai jual teknologi BRIN ini adalah efisiensi energi. Berbeda dengan cara tradisional yang menggunakan kayu bakar, mesin ini menggunakan gas yang lebih hemat dan suhu panasnya mudah dikontrol. Selain itu, material alat sudah menggunakan stainless steel tipe food grade sehingga lebih higienis.

Desain alat yang dibuat modular juga memudahkan mobilitas, sehingga sangat cocok bagi pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) atau kelompok tani di daerah dengan kapasitas maksimal 30 liter nira per proses.

Baca Juga: Prabowo ke Rusia, Boyong Bahlil Lahadalia Demi Amankan Pasokan Minyak Nasional

Tantangan di Sektor Hulu Meski teknologi sudah mumpuni, Sandi menekankan bahwa tantangan terbesar ada pada konsistensi budi daya sorgum. Minat petani masih sangat bergantung pada nilai ekonomi jika dibandingkan dengan jagung atau padi.

BRIN berharap, dengan adanya teknologi yang mampu meningkatkan harga jual produk olahan ini, ekosistem sorgum dari hulu ke hilir dapat terbentuk secara berkelanjutan.

"Jika bahan bakunya tersedia dan industrinya berjalan, maka rantai nilai sorgum ini bisa berkembang pesat," pungkasnya. (Antara)

×
Zoomed
Berita Terkait TERKINI

Pemerintah Amerika Serikat (AS) menyita aset kripto Iran senilai Rp17,8 triliun. Menkeu AS Scott Bessent sebut siap inca...

news | 16:39 WIB

PBNU meminta masyarakat tidak memberi stigma negatif pada institusi pondok pesantren akibat kasus kekerasan seksual oleh...

news | 16:29 WIB

Gedung Putih menegaskan Presiden AS Donald Trump hanya akan menerima kesepakatan nuklir dengan Iran yang menguntungkan A...

news | 15:00 WIB

Menhan AS Pete Hegseth beri peringatan keras ke China di Shangri-La Dialogue. AS siap gelontorkan anggaran militer Rp26....

news | 14:57 WIB

Megawati Soekarnoputri diperkirakan hadir dalam Puncak Peringatan Hari Lahir Pancasila 1 Juni 2026 di Gedung Pancasila. ...

news | 14:15 WIB

Presiden Prabowo Subianto tiba di Jakarta usai kunjungan kenegaraan ke Prancis. Indonesia sukses kantongi 4 kesepakatan ...

news | 14:11 WIB

Kantor Imigrasi Kelas I Khusus TPI Soekarno-Hatta mengungkap dua modus utama yang kerap digunakan calon jamaah haji nonp...

news | 13:59 WIB

Ratusan warga Teheran, Iran, konsisten turun ke jalan selama hampir 90 hari. Mereka menegaskan dukungan penuh pada pemer...

news | 13:53 WIB

Bareskrim Polri sidik dugaan manipulasi data ekspor (under invoicing) sawit oleh PT MMS. Kantor di Jakarta Utara dan gud...

news | 11:15 WIB

Iran menegaskan kesepakatan final dengan Amerika Serikat (AS) terganjal tuntutan berlebihan dari Washington. Simak krono...

news | 09:52 WIB