Menko AHY Ingatkan Ekspansi Pusat Data Harus Perhatikan Ketahanan Air Nasional

Menko AHY ingatkan risiko ekspansi data center terhadap pasokan air. Retno Marsudi ungkap pusat data butuh jutaan liter air per bulan untuk pendinginan.

Elara | MataMata.com
Rabu, 25 Februari 2026 | 12:00 WIB
Menko AHY Ingatkan Ekspansi Pusat Data Harus Perhatikan Ketahanan Air Nasional

Menko AHY Ingatkan Ekspansi Pusat Data Harus Perhatikan Ketahanan Air Nasional

matamata.com - Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), menegaskan bahwa pengembangan pusat data (data center) di Indonesia wajib dibarengi dengan strategi menjaga ketersediaan air nasional.

AHY menyebut ekspansi industri digital yang masif berpotensi menekan pasokan air, mengingat air merupakan komponen vital dalam sistem pendingin perangkat teknologi tersebut.

"Kita ingin membangun data center di seluruh Indonesia, bahkan menjadi hub di Asia Tenggara. Namun, kita butuh air untuk sistem pendinginnya (industrial boilers). Ini harus dihitung dengan cermat," ujar AHY dalam Water Town Hall Meeting di Jakarta, Selasa (24/2).

Dalam forum yang sama, Utusan Khusus Sekjen PBB untuk Isu Air, Retno Marsudi, menyoroti betapa intensifnya penggunaan air dalam industri ini. Berdasarkan perhitungan teknis, setiap 1 megawatt (MW) beban TI (IT load), sistem pendingin berbasis evaporasi dapat mengonsumsi 1,5 hingga 3 juta liter air per bulan.

Retno menekankan bahwa pengelolaan air tidak bisa lagi dilakukan secara sektoral atau terpisah (silo). Menurutnya, air adalah penggerak (enabler) bagi banyak sektor, mulai dari pertanian, kesehatan, hingga energi.

"Air mengajarkan kita satu hal: krisis ini tidak bisa diselesaikan sendirian. Kita harus meninggalkan pendekatan yang berdiri sendiri-sendiri," tegas mantan Menteri Luar Negeri RI tersebut.

Retno juga memaparkan aspek ekonomi dari investasi sektor air. Mengutip data Bank Dunia, setiap investasi sebesar 1 dolar AS di sektor air dapat memberikan pengembalian ekonomi hingga 6,8 dolar AS. Pengembalian ini mewujud dalam bentuk peningkatan produktivitas, pengurangan biaya kesehatan, hingga stabilitas sosial.

Saat ini, kebutuhan pendanaan global untuk sektor air mencapai 600 miliar dolar AS per tahun. Namun, masih terdapat kesenjangan pendanaan sekitar 131-140 miliar dolar AS per tahun untuk mencapai Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) keenam terkait air bersih dan sanitasi.

"Tantangan pembiayaan ini kompleks karena air menghubungkan lintas sektor. Sektor pertanian saja menyerap 72 persen penggunaan air tawar global. Maka, pendekatan pembiayaannya pun harus kolaboratif," tutup Retno. (Antara)

Baca Juga: Peluk Hangat dari Amman: Presiden Prabowo Disambut Diaspora dan Mahasiswa Indonesia

×
Zoomed
Berita Terkait TERKINI

Komnas HAM mendalami dasar hukum tindakan Komdigi yang menurunkan 486 konten media sosial pasca-aksi Agustus 2026 demi m...

news | 14:16 WIB

Calvin Verdonk berpeluang mencetak sejarah sebagai pemain Indonesia pertama yang tampil di Liga Champions saat Lille men...

news | 14:12 WIB

Menteri LH Jumhur Hidayat tegaskan pemadaman karhutla terus berlangsung. Lebih dari 60.000 personel dikerahkan dan 68 pe...

news | 13:00 WIB

Ketua MPR RI Ahmad Muzani mengapresiasi dakwah Habib Umar bin Hafidz yang dinilai mempermudah tugas MPR dalam menjaga pe...

news | 12:00 WIB

PLN Batam berhasil memulihkan pasokan listrik akibat pemadaman meluas sejak Senin. PLN juga menyiapkan kompensasi otomat...

news | 10:30 WIB