PMI Manufaktur Naik ke 52,4 dan Inflasi 3,28 Persen, Menkeu Sebut Ekonomi RI Bergerak Positif
matamata.com - Kementerian Keuangan (Kemenkeu) mencatat sejumlah indikator utama perekonomian nasional menunjukkan sinyal positif pada September 2026. Perbaikan ini terlihat dari Indeks Manufaktur (PMI), laju inflasi yang terkendali, hingga surplus neraca perdagangan yang berlanjut.
"Hari ini ada beberapa angka yang keluar yang cukup membesarkan hati," ujar Menteri Keuangan Suahasil Nazara di kantor Kemenkeu, Jakarta, Kamis (1/10/2026).
Indeks PMI Manufaktur Indonesia kembali masuk ke zona ekspansif pada level 52,4 pada September 2026. Angka ini membalikkan posisi kontraksi pada Agustus 2026 yang berada di level 49,8, sekaligus mencatatkan laju perbaikan kondisi bisnis terkuat sejak Februari 2026.
"Ini tanda perekonomian kita bergerak. Bersama-sama dengan PMI, dunia usaha dapat melanjutkan proses produksi barang dan jasa yang lebih banyak sehingga menumbuhkan ekonomi," kata Suahasil.
Dari sisi harga, Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan inflasi tahunan (year-on-year/yoy) pada September 2026 tercatat sebesar 3,28 persen. Angka tersebut masih berada di dalam sasaran target pemerintah di kisaran 2,5 plus minus 1 persen.
Inflasi terutama didorong oleh kelompok harga bergejolak (volatile food) sebesar 5,03 persen. Sementara itu, inflasi harga yang diatur pemerintah (administered price) tercatat 3,25 persen (yoy) dan inflasi inti (core inflation) sebesar 2,84 persen (yoy).
Tren positif juga ditunjukkan oleh neraca perdagangan Indonesia yang mencetak surplus 3,35 miliar dolar AS pada Agustus 2026. Kinerja positif ini ditopang pertumbuhan ekspor sebesar 6,72 persen (yoy) di tengah kenaikan harga komoditas internasional dan ekspansi manufaktur mitra dagang utama.
Di sisi lain, nilai impor mencapai 23,26 miliar dolar AS atau naik 19,09 persen (yoy). Peningkatan impor didominasi oleh bahan baku/penolong serta barang modal yang mengindikasikan aktivitas produksi dan investasi dalam negeri terus berjalan.
Secara kumulatif sepanjang Januari–Agustus 2026, total surplus neraca perdagangan mencapai 7,25 miliar dolar AS. Angka ini ditopang kenaikan ekspor sebesar 4,74 persen (cumulative-to-cumulative/ctc) dan impor sebesar 19,84 persen (ctc).
Selain indikator makro, Suahasil menyambut baik langkah Bank Indonesia (BI) yang memperluas underlying operasi moneter. Obligasi PT Sarana Multi Infrastruktur (Persero) atau PT SMI dan PT Sarana Multigriya Finansial (Persero) atau PT SMF kini resmi dapat digunakan dalam transaksi repo dengan BI.
Baca Juga: Kapolri Baru Jenderal Suyudi Ario Seto Ungkap Ditelepon Istana Kamis Pagi Sebelum Dilantik
"Ini akan menggulirkan perekonomian ke depan dan menjadi fundamental yang baik bagi perekonomian kita," tutur Menkeu. (Antara)