Rekomendasi Pakaian dan Cara Melindungi Kulit dari Abu Vulkanik Menurut Dokter
matamata.com - Dokter spesialis kulit dan kelamin, Dr. Arini Astasari Widodo, Sp.D.V.E., membagikan sejumlah rekomendasi jenis pakaian serta langkah perlindungan yang tepat untuk meminimalkan risiko iritasi kulit selama paparan abu vulkanik.
"Gunakan pakaian yang dapat meminimalkan permukaan kulit yang terbuka, seperti baju lengan panjang, celana panjang, dan sepatu tertutup," ujar Arini kepada ANTARA di Jakarta, Senin.
Lulusan Universitas Harvard itu menyarankan masyarakat untuk mengenakan pakaian tertutup, terutama saat membersihkan area rumah atau lingkungan yang dipenuhi timbunan abu. Anjuran ini juga sejalan dengan rekomendasi Survei Geologi Amerika Serikat (USGS) yang menekankan pentingnya penggunaan pakaian lengan panjang untuk mengurangi paparan langsung pada kulit.
Selain kulit, Arini mengingatkan masyarakat agar turut melindungi mata dan saluran pernapasan menggunakan topi, sarung tangan, kacamata pelindung, serta masker dengan daya filtrasi yang baik.
"Jika harus berada di luar ketika abu masih berada di udara, gunakan masker yang memiliki filtrasi baik dan pelindung mata. Sebisa mungkin kurangi aktivitas di luar ruangan ketika hujan abu sedang cukup berat," imbuh anggota Perhimpunan Dokter Spesialis Dermatologi, Venereologi, dan Estetika Indonesia (Perdoski) tersebut.
Terkait penggunaan tabir surya (sunscreen), Arini menegaskan bahwa produk ini tetap diperlukan karena keberadaan awan atau abu di atmosfer tidak serta-merta menghilangkan radiasi ultraviolet (UV). Sunscreen sebaiknya diaplikasikan pada kulit yang sudah bersih dan kering sebelum keluar rumah, serta didiamkan sejenak hingga membentuk lapisan pelindung yang baik.
Ia menganjurkan penggunaan produk broad-spectrum minimal SPF 30 dengan tekstur yang nyaman di kulit. Namun, ia memberikan catatan penting terkait pengaplikasian ulang (reapply).
"Jangan mengoleskan ulang sunscreen dengan cara menggosoknya di atas kulit yang sudah dipenuhi abu, karena abu dapat ikut bergesekan dengan kulit. Bila kulit sudah banyak terkena abu, sebaiknya bilas atau bersihkan secara lembut terlebih dahulu, keringkan, baru aplikasikan kembali sunscreen," jelasnya.
Dalam situasi hujan abu yang cukup tebal, penggunaan pakaian tertutup, topi, dan pembatasan aktivitas luar ruang jauh lebih krusial dibandingkan terus menambah lapisan sunscreen.
Arini juga berpesan agar masyarakat menghindari kebiasaan menggosok kulit saat membersihkannya dari abu vulkanik. Apabila volume abu di luar ruangan terlampau tinggi, masyarakat diimbau untuk tetap berada di dalam rumah dengan pintu dan jendela tertutup rapat. Perhatian khusus perlu diberikan kepada kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, serta individu dengan riwayat eksim atau kulit sensitif.
Baca Juga: Menkeu Purbaya Pastikan Perekonomian Aman dari Dampak Bencana
Segera kunjungi fasilitas kesehatan terdekat jika usai paparan muncul gejala seperti kemerahan berat, pembengkakan, sensasi terbakar yang kuat, luka atau lepuh, maupun keluhan lain yang tidak membaik setelah dibersihkan.
"Tentunya kesehatan kulit hanya salah satu aspek. Abu vulkanik juga dapat mengiritasi mata dan saluran pernapasan, sehingga masyarakat sebaiknya tetap mengikuti informasi dan arahan resmi pemerintah," tutupnya. (Antara)