BRIN Kemenyan Parfum: Potensi Ekstraksi Minyak Asiri Kemenyan Jadi Parfum Premium
matamata.com - Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) berupaya menghapus persepsi mistis yang melekat pada kemenyan. Melalui inovasi riset, getah tanaman endemis tersebut diekstraksi menjadi minyak asiri berkualitas tinggi yang siap dijadikan bahan dasar parfum premium kelas dunia.
Peneliti Pusat Riset Botani Terapan BRIN, Aswandi, menjelaskan bahwa minyak asiri kemenyan memiliki karakter aroma tipe amber yang sangat tegas (bold), elegan, serta jauh dari kesan menyeramkan seperti yang kerap diasosiasikan masyarakat.
"Bahkan seandainya kita datang langsung ke hutan kemenyan, tidak ada aroma yang menakutkan itu. Tidak ada," ujar Aswandi melalui siniar yang dipantau di Jakarta, Jumat (31/7).
Ia memaparkan, aroma dari proses ekstraksi minyak kemenyan ini sangat berbeda dengan bau kemenyan mentah saat dibakar untuk keperluan ritual. Guna menciptakan wewangian yang memikat, BRIN memformulasikan minyak kemenyan murni sebagai dasar aroma (base note) yang dipadukan dengan minyak asiri khas Nusantara lainnya.
Perpaduan tersebut mencakup minyak nilam (patchouli), minyak bunga kenanga, melati, hingga ekstrak jeruk. Kombinasi ini menghasilkan lapisan aroma yang mewah, kompleks, dan menyegarkan.
Menurut Aswandi, kandungan fitokimia dalam kemenyan Indonesia memiliki keunikan yang tidak dijumpai pada spesies kemenyan dari negara lain. Kelimpahan senyawa seperti cinnamein, benzyl benzoate, dan vanillin membuat komoditas ini memiliki daya saing tinggi untuk menguasai pasar global.
Selama ini, Indonesia terjebak sebagai pengekspor resin kemenyan mentah ke 60 negara dengan volume mencapai 5.000 hingga 6.000 ton per tahun. Ironisnya, Indonesia kerap mengimpor kembali produk parfum dan kosmetik jadi bernilai tinggi yang bahan baku utamanya justru berasal dari tanah air sendiri.
Selain untuk industri wewangian, inovasi berbasis kemenyan ini juga menyimpan khasiat aromaterapi yang bermanfaat untuk menenangkan pikiran, meningkatkan fokus, hingga membantu regenerasi kulit wajah.
Sebagai langkah hilirisasi, BRIN membuka pintu kolaborasi seluas-luasnya bagi pelaku UMKM di seluruh Indonesia untuk memanfaatkan paten dan teknologi purifikasi kemenyan ini. Upaya tersebut dinilai krusial untuk menekan dominasi produk parfum sintetik impor sekaligus menggerakkan ekonomi kreatif nasional.
"Di pekarangan kita punya nilam, serai wangi, hingga kemenyan. Kenapa tidak kita buat sendiri parfumnya dan aromaterapinya? Selain mengurangi ketergantungan impor, kita juga membangun ekonomi kreatif," pungkasnya. (Antara)