Konflik Timur Tengah Memanas, Menkeu Purbaya Buka-bukaan Soal Nasib APBN dan Harga Minyak
matamata.com - Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengkhawatirkan lonjakan harga minyak dunia imbas konflik di Timur Tengah yang terus berlanjut. Kenaikan harga minyak tersebut berpotensi mempersempit ruang fiskal pemerintah dalam memberikan stimulus ekonomi.
Kendati demikian, Kementerian Keuangan telah menyiapkan strategi agar Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) tetap kokoh menghadapi guncangan geopolitik tersebut.
"Tadinya saya berharap harga minyak turun ke 70 dolar AS per barel. Sebelumnya anggaran saya hitung dengan asumsi harga 100 dolar AS per barel, jadi ada uang lebih yang bisa dipakai untuk mendorong perkembangan ekonomi. Sekarang mungkin uangnya agak berkurang, jadi saya harus lebih hati-hati lagi," ujar Purbaya usai menemui Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) di Jakarta, Rabu (22/7/2026).
Meski dibayangi ketidakpastian global, Purbaya optimistis perekonomian Indonesia akan tetap tumbuh positif. Menurutnya, daya tahan ekonomi nasional saat ini ditopang kuat oleh tingginya permintaan domestik, terutama dari sektor konsumsi rumah tangga.
"Ekonomi Indonesia akan terus membaik ke depan, walaupun ekonomi global sedang gonjang-ganjing. Kenapa? Karena 90 persen ekonomi kita didorong oleh domestic demand (permintaan domestik)," tegas Purbaya.
Sebagai informasi, ketegangan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran dilaporkan kembali meningkat. Ketegangan terbaru dipicu oleh aksi Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) yang mengumumkan telah menyerang pusat data milik perusahaan teknologi asal AS, Amazon, di Bahrain.
Serangan rudal jelajah tersebut diklaim sebagai balasan atas aksi militer AS yang sebelumnya menggempur lokasi pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) Darkhovin di Iran pada Minggu (19/7/2026) lalu. (Antara)