Jadi Lumbung Energi Hijau, Potensi Angin Sulsel Perlu Kajian Mendalam Unhas
matamata.com - Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menilai potensi energi angin di Sulawesi Selatan (Sulsel) membutuhkan kajian akademis mendalam dari perguruan tinggi, khususnya Universitas Hasanuddin (Unhas). Kajian berbasis data ilmiah ini krusial untuk memaksimalkan pemanfaatan Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi (EBTKE) sesuai karakteristik wilayah setempat.
Direktur Jenderal EBTKE Kementerian ESDM, Eniya Listiani Dewi, menyatakan bahwa karakter angin di setiap daerah berbeda-beda. Di Sulsel, keunikan pola angin berpotensi besar menopang sistem kelistrikan daerah, terutama saat produksi Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) menurun akibat musim kemarau.
"Karena karakteristik angin di setiap wilayah berbeda, perlu kajian yang spesifik. Keterlibatan perguruan tinggi seperti Unhas sangat penting untuk menghasilkan data akurat mengenai potensi energi terbarukan di masing-masing daerah," ujar Eniya dalam keterangan resminya di Makassar, Sabtu (12/9/2026).
Eniya menambahkan, kapasitas Pembangkit Listrik Tenaga Bayu (PLTB) di Indonesia diproyeksikan mampu mencapai sekitar 1 gigawatt (GW) dalam kurun waktu 10 tahun ke depan. Saat ini, kapasitas terpasang baru mencapai 75 megawatt (MW), yang direncanakan mendapat ekspansi tambahan sebesar 70 MW.
Sementara itu, Wakil Rektor Bidang Inovasi dan Pengelolaan Usaha Unhas, Prof. Dr. Amir Ilyas, menegaskan bahwa Sulsel memiliki posisi strategis sebagai lumbung energi hijau di Indonesia Timur. Wilayah ini didukung koridor angin terbaik di PLTB Jeneponto dan Sidrap, intensitas sinar matahari yang tinggi, serta potensi hidro yang masif.
Guna mendukung transisi energi nasional, Unhas mengarahkan risetnya pada hilirisasi teknologi tepat guna. Beberapa fokus pengembangannya meliputi Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) Terapung berbasis Internet of Things (IoT), Battery Energy Storage System (BESS), hingga pemanfaatan biomassa dari limbah pertanian lokal.
Senada dengan hal tersebut, Direktur Pengelolaan Usaha dan Optimalisasi Aset Unhas, Dr. M. Yahya Siradjuddin, menyatatakan kesiapan Unhas dalam memperkuat penyediaan data ilmiah guna mengakselerasi pengembangan energi terbarukan di kawasan tersebut. (Antara)