Residensi IPCC 2026 di Yogyakarta Tegaskan Seni Tak Mengenal Batas Negara
matamata.com - Kementerian Kebudayaan (Kemenbud) menegaskan pentingnya kolaborasi lintas negara melalui penutupan program residensi Indonesia Pacific Cultural Connect (IPCC) 2026 di Museum Benteng Vredeburg, Yogyakarta, Rabu (14/10/2026) malam.
Perhelatan puncak ini menampilkan hasil karya kolaborasi seniman dari Indonesia bersama delapan negara di kawasan Kepulauan Pasifik dan tetangga.
Direktur Jenderal Diplomasi, Promosi, dan Kerja Sama Kebudayaan Kemenbud, Endah T.D. Retnoastuti, menyampaikan bahwa program ini memperkuat pemahaman publik mengenai nilai universal dari seni.
"Seni tidak mengenal batas wilayah dan negara. Apalagi bagi Indonesia yang berbagi rumpun budaya Austronesia dan Melanesia dengan negara-negara di Kepulauan Pasifik," ujar Endah di Yogyakarta, Kamis (15/10/2026).
Kolaborasi tersebut melibatkan seniman dari Fiji, Kepulauan Marshall, Kaledonia Baru, Papua Nugini, Kepulauan Solomon, Timor Leste, Vanuatu, dan Indonesia. Para peserta menyajikan pertunjukan musik tradisional, seni tari, hingga olahan kriya.
Dalam prosesnya, para seniman mengeksplorasi instrumen gamelan Jawa sebagai pemandu pertunjukan musik serta mengolah batok kelapa dan bambu menjadi produk seni bernilai ekonomi.
Program residensi yang berlangsung sejak 5 Oktober 2026 ini menempatkan Yogyakarta sebagai pusat kegiatan karena peran strategisnya sebagai salah satu sentra seni dan budaya Indonesia. Hasil pementasan musik dan kerajinan tangan tersebut dipamerkan berbarengan dengan produk seni serta UMKM lokal.
"Harapannya, perhelatan ini menjadi gerbang pembuka penguatan kerja sama di sektor lainnya, sekaligus menjadi upaya memperkuat ekosistem seni tanah air," tutur Endah.
Ia menambahkan, residensi IPCC merupakan tindak lanjut dari kesepakatan permanen yang tertuang dalam deklarasi bersama para menteri pada agenda Indonesia-Pacific Cultural Synergy di Kupang, November 2025.
Program ini terselenggara atas kerja sama Yayasan Works of Wonder (WoW) Indonesia dengan dukungan penuh Kemenbud, Dana Indonesia Raya, dan LPDP.
Baca Juga: MK Gelar Sidang Putusan Uji Materiil UU Peradilan Militer dan 21 UU Lainnya
Juru Bicara Yayasan WoW Indonesia, Achmad Ridho Wahyudi, menjelaskan seluruh karya yang ditampilkan dalam malam puncak merupakan murni buah tangan para peserta residensi. Para seniman mempelajari teknik anyaman bambu untuk membuat properti tari jaranan yang langsung digunakan oleh para penari.
Selain itu, komposisi musik pengiring pertunjukan merupakan hasil eksplorasi gabungan antara gamelan dan alat musik tradisional peserta.
"Awalnya gamelan hanya diperkenalkan sebagai instrumen dasar. Namun, para peserta dari negara kepulauan Pasifik sangat tertarik, sehingga kurator memfasilitasi perancangan karya musik kolaboratif yang menggabungkan gamelan dengan alat musik tradisional Indonesia maupun mancanegara," kata Ridho. (Antara)