Hashim Djojohadikusumo Paparkan Urgensi Program MBG di Hadapan Peraih Nobel Ekonomi 2024

Hashim Djojohadikusumo memaparkan urgensi Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di hadapan Peraih Nobel Ekonomi James A. Robinson sebagai strategi tingkatkan kualitas SDM.

Elara | MataMata.com
Rabu, 14 Oktober 2026 | 07:15 WIB
Hashim Djojohadikusumo Paparkan Urgensi Program MBG di Hadapan Peraih Nobel Ekonomi 2024

Hashim Djojohadikusumo Paparkan Urgensi Program MBG di Hadapan Peraih Nobel Ekonomi 2024

matamata.com - Anggota Dewan Penasihat Prasasti, Hashim Djojohadikusumo, memaparkan urgensi Program Makan Bergizi Gratis (MBG) sebagai langkah strategis pemerintah dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia (SDM) Indonesia.

Penjelasan tersebut disampaikan di hadapan Peraih Nobel Ekonomi Tahun 2024, James A. Robinson, dalam gelaran Prasasti Indonesia Policy Forum 2026 di Jakarta, Selasa (13/10/2026).

Hashim menjelaskan bahwa persoalan gizi berdampak langsung pada kemampuan anak menyerap materi pelajaran di sekolah, yang pada akhirnya memengaruhi produktivitas saat mereka memasuki usia kerja.

"Salah satu persoalan sekaligus landasan program kami adalah Makan Bergizi Gratis (MBG). Program ini merupakan salah satu program unggulan yang dijanjikan Presiden Prabowo Subianto," ujar Hashim.

Gagasan MBG, lanjut Hashim, telah digagas sejak tahun 2006 ketika Prabowo merasa prihatin atas kondisi gizi dan pendidikan anak-anak Indonesia. Saat itu, angka tengkes (stunting) di Indonesia tergolong tinggi, yakni mencapai sekitar 30 persen.

Ia menekankan bahwa persoalan gizi tidak hanya mengenai anak yang kekurangan makanan, tetapi juga konsumsi makanan yang tidak memenuhi standar nutrisi. Berdasarkan kajian pemerintahan sebelumnya, sekitar 41 persen anak sekolah di Indonesia berangkat tanpa sarapan.

"Bisa dibayangkan ketika anak-anak harus mengikuti pelajaran selama tiga hingga lima jam dengan perut kosong," tuturnya.

Oleh karena itu, intervensi gizi dinilai sangat krusial agar Indonesia dapat memanfaatkan bonus demografi secara optimal. Melalui pemenuhan gizi yang baik, generasi muda diharapkan tumbuh menjadi SDM yang produktif dan berdaya saing tinggi.

Dalam forum tersebut, Hashim turut membandingkan capaian pendidikan Indonesia dengan Korea Selatan berdasarkan indikator Programme for International Student Assessment (PISA).

"Korea Selatan hampir selalu berada di posisi tiga atau empat besar bersama Singapura, Selandia Baru, dan Finlandia. Sementara itu, Indonesia berada di peringkat ke-62 dari 70 negara," jelasnya.

Baca Juga: Tourism Malaysia Gencarkan Promosi Wisata di Manado dan Indonesia Tengah

Menurut Hashim, Indonesia sebenarnya termasuk negara yang terlambat dalam menerapkan kebijakan pemenuhan gizi anak sekolah, sebab program serupa sudah lebih dulu dijalankan oleh banyak negara lain.

Oleh karena itu, ia menempatkan MBG bukan sekadar program penyediaan makanan harian, melainkan investasi jangka panjang untuk mendongkrak kualitas pendidikan dan pertumbuhan ekonomi nasional. (Antara)

×
Zoomed
Berita Terkait TERKINI

Komnas HAM mendalami dasar hukum tindakan Komdigi yang menurunkan 486 konten media sosial pasca-aksi Agustus 2026 demi m...

news | 14:16 WIB

Calvin Verdonk berpeluang mencetak sejarah sebagai pemain Indonesia pertama yang tampil di Liga Champions saat Lille men...

news | 14:12 WIB

Menteri LH Jumhur Hidayat tegaskan pemadaman karhutla terus berlangsung. Lebih dari 60.000 personel dikerahkan dan 68 pe...

news | 13:00 WIB

Ketua MPR RI Ahmad Muzani mengapresiasi dakwah Habib Umar bin Hafidz yang dinilai mempermudah tugas MPR dalam menjaga pe...

news | 12:00 WIB

PLN Batam berhasil memulihkan pasokan listrik akibat pemadaman meluas sejak Senin. PLN juga menyiapkan kompensasi otomat...

news | 10:30 WIB