Menko Pangan Minta Pemda Perbanyak Pasar Murah untuk Kendalikan Inflasi

Menko Pangan Zulkifli Hasan meminta pemda memperbanyak pasar murah menggunakan anggaran tidak terduga guna menekan inflasi dan menjaga stabilitas harga.

Elara | MataMata.com
Rabu, 07 Oktober 2026 | 07:45 WIB
Menko Pangan Minta Pemda Perbanyak Pasar Murah untuk Kendalikan Inflasi

Menko Pangan Minta Pemda Perbanyak Pasar Murah untuk Kendalikan Inflasi

matamata.com - Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan meminta seluruh pemerintah daerah (pemda) memperbanyak penyelenggaraan pasar murah. Langkah ini dinilai strategis untuk menjaga stabilitas harga pangan sekaligus mengendalikan laju inflasi di daerah.

"Tolong diperbanyak pasar murah, Pak. Ada anggaran tidak terduga dari gubernur, bupati, dan wali kota, itu sangat penting buat rakyat," kata Zulkifli Hasan saat memantau pelaksanaan Pasar Murah di Kendari, Sulawesi Tenggara, Selasa (6/10).

Pria yang akrab disapa Zulhas ini menjelaskan bahwa pasar murah menjadi sarana efektif pemerintah dalam menjaga pasokan dan stabilitas harga pangan. Menurutnya, kenaikan harga komoditas walau sebesar Rp1.000 sudah sangat memberatkan masyarakat.

Oleh karena itu, subsidi pemda—seperti Rp500 per komoditas melalui pasar murah—tidak akan memberatkan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD), tetapi berdampak besar bagi kesejahteraan warga.

Ia menambahkan, Bulog juga telah mulai mendistribusikan bantuan pangan ke berbagai wilayah mulai pekan ini.

Zulhas menegaskan bahwa sektor pertanian dan pangan memegang peranan vital bagi kedaulatan bangsa. Sesuai arahan Presiden RI, sektor pangan nasional ditargetkan menuju swasembada demi kehormatan bangsa dan seluruh unsur pemerintahan.

Ia menyoroti tingginya ketergantungan impor pangan Indonesia pada tahun 2024, di mana beras diimpor sebanyak 4,5 juta ton, gula 6 juta ton, gandum 13 juta ton, serta jutaan ton kedelai. Kondisi tersebut dinilai memperkaya petani luar negeri, sementara petani lokal tertinggal di tingkat kesejahteraan rendah (desil 1 hingga 4).

"Ada 160 juta petani dan nelayan. Kalau ada gangguan terhadap Indonesia, mereka yang duluan maju. Masa tidak kita perhatikan," tegas Zulhas.

Meski demikian, capaian sektor pertanian mulai menunjukkan tren positif. Mengutip data FAO dan Bank Dunia, Nilai Tukar Petani (NTP) tercatat naik dari 116 persen menjadi 129 persen. Peningkatan ini mencerminkan daya beli dan tingkat kesejahteraan petani yang membaik, khususnya petani padi dan jagung.

Untuk mempertahankan tren positif tersebut, Zulhas mendorong efisiensi dan modernisasi pertanian melalui penggunaan alat dan mesin pertanian (alsintan) serta teknik pemupukan modern agar mampu bersaing dengan negara produsen pangan lainnya. (Antara)

Baca Juga: Dubes RI: Indonesia Tak Penuhi Tuntutan Pembajak MT Honour 25 di Somalia

×
Zoomed
Berita Terkait TERKINI

KPK memanggil Menteri ATR/BPN Nusron Wahid sebagai saksi kasus dugaan suap HGB PT Summarecon Agung di Kabupaten Bogor pa...

news | 08:30 WIB

Pengamat kebijakan publik Kamir Abdullah menyampaikan ucapan ulang tahun ke-59 kepada Wakil Ketua DPR RI Sufmi Dasco Ahm...

news | 08:15 WIB

Menko Pangan Zulkifli Hasan meminta pemda memperbanyak pasar murah menggunakan anggaran tidak terduga guna menekan infla...

news | 07:45 WIB

Indonesia menolak penuhi tuntutan pembajak kapal MT Honour 25 di Somalia. Empat WNI ABK berhasil diselamatkan dan dipula...

news | 07:26 WIB

Bapanas memastikan bantuan pangan beras 10 kg berlanjut hingga Desember 2026 untuk 33,24 juta KPM. Total alokasi tahun i...

news | 06:50 WIB