Seleb

Fenomena Bunuh Diri di Kalangan Artis, Psikolog Intan Erlita Buka Suara

Psikolog Intan Erlita bicara mengenai fenomena depresi dan bunuh diri di kalangan publik figur.

Linda Rahmadanti | Yuliani

Clara Gopa Duo Semangka (MataMata.com/Revi)
Clara Gopa Duo Semangka (MataMata.com/Revi)

Matamata.com - Kabar Clara Gopa melakukan upaya bunuh diri dengan menyayat tangan menggunakan silet menjadi perhatian publik. 

Kini, Psikolog Intan Erlita memberikan penjelasan alasan mengapa artis sangat dekat dengan fenomena bunuh diri. 

"Dengan branding dan imej yang harusnya dia jaga akhirnya masalah-masalah hidupnya dia pendam sendiri dan mungkin lingkungan sekitar atau keluarganya tidak mendukung di saat dia masa turun. Akhirnya dia pendam sendiri dan sesuatu yang dipendam itu akhirnya membuat rentan," kata Psikolog Intan Erlita kepada Suara.com, Kamis (6/8/2020).

Penyebab utama bunuh diri disebutnya karena banyaknya tuntutan yang tak bisa dipenuhi. Akhirnya, mereka kerap lupa bahwa mereka juga manusia biasa.

Clara Gopa usai mencoba bunuh diri. [Instagram]
Clara Gopa usai mencoba bunuh diri. [Instagram]

"Kadang orang-orang lupa walau dia sosok publik figur dia juga manusia dan manusia tidak sempurna," jelasnya.

Keberadaan sosial media saat ini juga semakin membuat public figure harus lebih bisa dewasa. 

"Media sosial juga penyebab (depresi) banget mbak, bayangin ya kita orang biasa aja diomongin satu dua orang kepikiran, apalagi publik figur, kebayang nggak yang ngomongin. Bayangkan kalau tiap hari dia mendengar bully-bullyan itu dan nggak mendapat ibaratnya 'tong sampah' untuk dia cerita dan support dia," tutur Intan Erlita.

Dalam kasus Clara Gopa misalnya, ia dibully warganet karena disebut "halu" dengan Atta Halilintar. Diduga, ia tak mendapat sosok yang mendukungnya di lingkaran terdekat, sehingga ia tak bisa mengatur emosinya.

"Kalau misal sampai di titik dia tidak bisa mengontrol emosinya dan mencoba bunuh diri, artinya dia merasa orang-orang nggak ada yang support dia, dia harus mencari ahlinya. Bisa ke psikolog, psikiater, ahli agama. Artinya dia butuh yang support," paparnya.

"Sebetulnya, dia harus punya ruang untuk kehidupan pribadi. Jadi dia bisa menjadi dirinya sendiri. Ruang itu bisa dia buat dengan keluarga atau manajemennya yang support dia dan itu sebetulnya cukup untuk merecharge dia," sambungnya.

Intan Erlita menggarisbawahi dukungan dari lingkungan sekitar karena itu faktor utama. Jika tidak, mereka yang depresi dan pernah berupaya bunuh diri kemungkinan besar akan mengulang percobaan mengakhiri hidupnya lagi.

"Bisa melakukan bunuh diri jika dia mendapat hajaran (bully) lagi dari sekitar. Dia harus selalu ada pendampingan. Kalau nggak (didampingi) dia bisa banget mencoba bunuh diri lagi. Kasus-kasus yang bisa bangkit adalah orang-orang yang memiliki sosok yang supportif," imbuhnya.

Berita Terkait

Berita Terkini

Live Report